Tautan-tautan Akses

Pemerintah RI Terus Cegah WNI Bergabung dengan ISIS

  • Fathiyah Wardah

Tembok bergambarkan simbol dan dukungan atas pembentukan ISIS di Solo, Jawa Tengah, sebelum dihapus.

Tembok bergambarkan simbol dan dukungan atas pembentukan ISIS di Solo, Jawa Tengah, sebelum dihapus.

Hingga tahun ini ada 300 warga negara Indonesia yang bergabung dengan kelompok radikal itu, 60 diantaranya telah tewas.

Anggota tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto mengatakan pemerintah terus berusaha mencegah bertambahnya warga negara Indonesia yang bergabung dalam kelompok militan Negara Islam (ISIS).

Upaya itu berkisar dari pendeteksian dini sampai pendekatan kepada ulama dan pencabutan kewarganegaraan, ujarnya.

Wawan mengatakan banyaknya mahasiswa dan alumni perguruan tinggi yang terlibat dalam jaringan kelompok terorisme ini menunjukkan bahwa pengkajian ilmu agama masih kurang mendalam dan belum menjadi benteng dari penyebaran ideologi kelompok radikal.

Untuk itu, ujarnya. BNPT terus berkeliling ke seluruh Indonesia dengan menghubungkan masyarakat langsung dengan para ulama maupun juga petugas keamanan di Timur Tengah termasuk Irak. Mereka diminta untuk memberikan dasar-dasar mengenai konsep jihad yang benar dan menjelaskan kondisi yang ada di sana, ujarnya.

Selain itu, BNPT juga terus melakukan pembinaan kepada mereka yang masih di penjara maupun yang telah keluar, tambahnya. Keluarganya mereka pun, menurut Wawan, juga diberi keterampilan-keterampilan.

Dia mengatakan BNPT juga melakukan deteksi dini agar dapat mencegah warga negara Indonesia bergabung dengan ISIS meski ada sejumlah kendala.

"Upaya deteksi dini supaya mereka-mereka tidak keluar tetapi karena mereka masih orang bebas artinya bukan terlibat pada pidana tertentu maka tidak semua orang bisa dicekal. Orang yang dekat yang sekelilingnya itu (keluarga pelaku teror) tetap di dekat supaya kalau ada dorongan untuk berangkat di sana bisa dicegah," ujarnya.

Wawan menambahkan pemerintah berupaya akan mencabut kewarganegaraan mereka yang bergabung dengan ISIS karena berdasarkan Undang-undang melarang WNI menjadi milisi dan bersumpah dengan negara lain.

Hingga tahun ini, ujar Wawan, ada 300 warga negara Indonesia yang bergabung dengan kelompok radikal itu, 60 diantaranya telah tewas. Mereka rata-rata berumur 17 hingga 25 tahun.

Wawan mengatakan 300 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS diantaranya berasal dari Lamongan, Jawa Timur, Jakarta, Solo, Bima danPoso.

Warga negara Indonesia yang bergabung dengan kelompok ISIS direkrut oleh simpatisan ISIS di Indonesia yang biasanya berasal dari kelompok yang juga dikategorikan radikal.

Menurut Wawan, WNI yang terlibat ISIS dan berangkat ke Suriah mendapatkan modal sebesar US$1.500 untuk biaya akomodasi dan transportasi. Alasan mereka merekrut anak muda, kata Wawan, disebabkan fisik yang masih kuat dan juga tidak banyak tanggungan.

Biasanya, lanjut Wawan, para WNI yang ingin bergabung ke ISIS berangkat melalui Bandara Djuanda, Surabaya, menuju Kuala Lumpur dilanjutkan ke Istambul. Setelah sampai di Istambul, lanjutnya, mereka ada yang berangkat ke kota Aleppo di Syiria dan Mosul, Irak.

Sebelum berangkat kata Wawan, mereka mendapatkan pelatihan militer di sejumlah tempat di daerah seperti Bangil dan diajarkan oleh kelompok radikal yang pernah mendapatkan pelatihan di Afganistan dan juga Moro, Filipina. Mereka juga nantinya, menurut Wawan, akan mendapatkan pelatihan setelah tiba di tempat tujuan.

"Dari Surabaya sudah disiapkan surat-suratnya di Bandara Djuanda itu. Dan di Malaysia juga sudah ada yang atur, begitu juga di Istambul. Di sana disiapkan pelatihan cuaca, medan, musuh juga sudah ada yang mengajarkan," ujarnya, Senin (24/11).

Secara terpisah, Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman mengatakan pemerintah tidak membiarkan warga negara Indonesia dengan mudah keluar negeri untuk berjuang, apalagi bergabung dengan kelompok ISIS.

Menurutnya, peran orangtua dan tokoh agama sangat diperlukan untuk mencegah ini.

"Karena sebelum ISIS muncul, kita sudah pernah punya pengalaman serupa puluhan tahun lalu. Peran orangtua dan ulama penting, kasian anak-anak muda belum apa-apa sudah pergi kesana dan melakukan perbuatan yang keji. Mendingan dia di sini berjihad membangun Indonesia," ujarnya.

XS
SM
MD
LG