Tautan-tautan Akses

Pengaruh Indonesia Besar dalam Perangi ISIS

  • Fathiyah Wardah

President Joko Widodo (kanan) menerima Menlu AS John Kerry di Istana Negara Jakarta (20/10). Kerry mengajak Indonesia untuk bekerjasama memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) .

President Joko Widodo (kanan) menerima Menlu AS John Kerry di Istana Negara Jakarta (20/10). Kerry mengajak Indonesia untuk bekerjasama memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) .

Pengamat menilai Amerika mengajak Indonesia memerangi ISIS, karena sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki pengaruh besar di daerah kawasan Asia Tenggara khususnya dan juga negara-negara Islam lainnya.

Menteri luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mengajak Indonesia untuk bekerjasama memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) . Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika ketika bertemu dengan presiden Indonesia Joko Widodo atau Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10).

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian yang sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Bambang Pranowo kepada VOA hari Selasa (21/10), menilai baik ajakan kerjasama Amerika Serikat dalam memerangi ISIS.

Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar kata Bambang memang memiliki pengaruh yang sangat besar, khususnya di kawasan Asia Tenggara dalam mencegah masuknya ISIS.

Menurutnya, apabila Indonesia bisa mencegah pengaruh ISIS maka akan sangat bermakna bagi negara kawasan Asia Tenggara khususnya dan juga mempunyai pengaruh yang besar di negara-negara muslim yang lain.

Selain itu lanjut Bambang, Amerika juga melihat Indonesia bisa memadukan antara demokrasi dan Islam sehingga hal ini bisa menjadi model bagi negara-negara muslim yang lain.

"Seharusnya, itu dapat ditiru negara-negara muslim yang lain dan Amerika harus berkepentingan untuk ikut menjaga ini, jangan sampai kondisi yang bagus ini rusak oleh kehadiran ISIS," ungkap Bambang.

Lebih lanjut, Bambang Pranowo mengatakan pemerintah Indonesia juga harus memperhatikan daerah-daerah bekas konflik seperti Poso dan Ambon karena daerah-daerah seperti itu sering dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk melakukan perekrutan.

Faktor kemiskinan lanjut Bambang merupakan salah satu akar masalah yang menyebabkan mudahnya masyarakat di wilayah bekas konflik ikut dengan kelompok radikal.

Selain itu, pemerintah juga harus memperhatikan mereka yang telah keluar dari penjara yang terkait kasus terorisme. Hal ini juga untuk meminimalisir terus berkembangnya gerakan radikal.

"Pasca dipenjarakan itu yang penting dan bagaimana masyarakat tidak melakukan stigma kepada mereka itu. Mereka juga diberikan pekerjaan kalo mereka diberikan kegiatan, dikasih keterampilan, keluarganya disantuni maka dengan sendirinya mereka akan disibukkan," ulas Bambang.

Secara terpisah, Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman mengatakan pemerintah tidak membiarkan warga negara Indonesia dengan mudah keluar negeri untuk berjuang, apalagi bergabung dengan kelompok ISIS.

Marciano yakin ISIS tidak akan tumbuh subur di Indonesia karena saat ini masyarakat Indonesia sudah matang sehingga tidak mudah tergoyah oleh gerakan-gerakan seperti itu. Menurutnya sebelum ISIS muncul, Indonesia sudah pernah punya pengalaman serupa puluhan tahun lalu seperti gerakan DI/TII Kartosuwiryo.

"Masyarakat kita sudah matang, masyarakat kita tidak mudah tergoyah oleh gerakan-gerakan seperti itu. Karena sebelum ISIS muncul, kita sudah pernah punya pengalaman serupa puluhan tahun lalu," kata Marciano.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG