Tautan-tautan Akses

AS

Obama Kurangi Hukuman 111 Napi


Para narapidana mengambil makan siang dalam antrean panjang di penjara Elmore, Alabama, yang kelebihan kapasitas. (Foto: Dok)

Para narapidana mengambil makan siang dalam antrean panjang di penjara Elmore, Alabama, yang kelebihan kapasitas. (Foto: Dok)

Obama sejak lama mengimbau penghapusan hukuman keras bagi pelanggaran narkoba karena hal itu menyebabkan hukuman yang berlebihan dan tingkat pemenjaraan yang tidak pernah dialami negara-negara maju lainnya.

Presiden AS Barack Obama hari Selasa (30/8) mengurangi hukuman 111 narapidana federal dalam putaran baru pemberian remisi kepada mereka yang dihukum karena kasus narkoba non-kekerasan.

Pembebasan lebih awal itu merupakan bagian dari upaya Obama untuk memperbaiki apa yang dianggapnya hukuman minimum wajib yang lama.

Desakannya untuk mengurangi beban pelanggar narkoba non-kekerasan mencerminkan pandangan lamanya bahwa negara harus memperbaiki dampak aturan hukuman berat yang menyebabkan ribuan warga Amerika terlalu lama mendekam dalam penjara.

Termasuk di antara yang mendapat potongan hukuman hari Selasa adalah orang-orang yang dihukum karena melakukan pelanggaran narkoba dengan menyelundupkan kokain, heroin, mariyuana dan metamfetamin. Tapi 16 remisi itu termasuk pelanggaran terkait senjata api.

Penasihat Gedung Putih Neil Eggleston mengatakan Obama telah memberi 673 remisi, lebih banyak dari gabungan remisi yang diberikan 10 presiden sebelumnya. Lebih dari sepertiga penerima remisi adalah terpidana yang menjalani hukuman seumur hidup.

“Kita harus ingat bahwa ini adalah orang-orang, putra, putri, orang tua dan dalam banyak kasus, kakek-nenek, yang telah mengambil langkah-langkah rehabilitasi dan berhak mendapat kesempatan kedua,” kata Eggleston.

“Mereka adalah orang yang menerima hukuman keras berdasarkan undang-undang yang sudah tidak berlaku lagi karena umumnya melakukan kejahatan narkoba non-kekerasan."

Obama sejak lama mengimbau agar secara bertahap menghapus hukuman keras bagi pelanggaran narkoba karena hal itu menyebabkan hukuman yang berlebihan dan tingkat pemenjaraan yang tidak pernah dialami negara-negara maju lainnya.

Obama cenderung menggunakan kekuasaannya untuk mengurangi hukuman atau lebih sering mengeluarkan remisi di akhir masa jabatannya. Pejabat pemerintah mengatakan hal itu akan berlanjut sebelum Presiden Obama meninggalkan Gedung Putih Januari 2017. [my/al]

XS
SM
MD
LG