Tautan-tautan Akses

Mendagri Burundi Sangkal Terjadinya Kudeta


Para demonstran merayakan berita "kudeta militer" dalam aksi protes di ibukota Bujumbura, Burundi hari Rabu (13/5). Kudeta ini dibantah Mendagri Burundi.

Para demonstran merayakan berita "kudeta militer" dalam aksi protes di ibukota Bujumbura, Burundi hari Rabu (13/5). Kudeta ini dibantah Mendagri Burundi.

Mendagri Nduwimana mengatakan bahwa pasukan yang setia kepada Presiden Pierre Nkurunziza tetap menguasai istana kepresidenan, stasiun radio dan TV pemerintah.

Seorang pejabat tinggi Burundi menepiskan klaim adanya sebuah kudeta yang dilakukan oleh seorang jenderal yang berkhianat.

Menteri Dalam Negeri Burundi, Edouard Nduwimana mengatakan kepada VOA bahwa pasukan yang setia kepada Presiden Pierre Nkurunziza tetap menguasai istana kepresidenan, stasiun radio dan TV pemerintah, serta bandara utama di ibukota Bujumbura.

Ia mengatakan, Presiden Nkurunziza telah kembali ke Burundi setelah menghadiri KTT regional di Tanzania hari Rabu (13/5), meskipun ia tidak menyebutkan dengan pasti di mana Presiden saat ini berada.

Sebelumnya, Jenderal Godefroid Niyombare mengatakan kepada stasiun radio swasta Burundi bahwa presiden telah digulingkan, dan mengatakan, ia akan membentuk sebuah komisi untuk "memulihkan kesatuan dan keharmonisan nasional”.

Reporter VOA Gabe Joselow, yang berada di Bujumbura, ibukota Burundi melaporkan, puluhan ribu warga Burundi, termasuk tentara, merayakan kudeta itu di jalan-jalan setelah pengumuman jenderal itu. Tetapi Joselow juga melaporkan mendengar tembakan sepanjang hari, sebagian datang dari dekat pusat penyiaran nasional yang dikepung tentara yang setia kepada presiden.

Lima negara Masyarakat Afrika Timur mengutuk percobaan kudeta itu.

Burundi telah diguncang protes sejak 28 April, sewaktu Presiden Nkurunziza mengumumkan, ia akan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.Bentrokan antara polisi dan demonstran telah menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya.

Para pengecam mengatakan, masa jabatan ketiga tidak konstitusional, sementara presiden dan para pendukungnya berkeras mengatakan, itu legal karena ia dipilih oleh parlemen, dan bukan melalui pemilu, untuk masa jabatan lima tahun pertamanya pada tahun 2005. Mahkamah Konstitusi Burundi mendukung keputusan presiden itu.

XS
SM
MD
LG