Tautan-tautan Akses

Masalah Pengurusan Anak Kunci Bagi Ibu Bekerja di Vietnam


Pekerja di pabrik pemintalan benang milik perusahaan tekstil Ha Nam di kota Phu Ly, sekitar 60 kilometer selatan Hanoi. (Foto: Ilustrasi)

Pekerja di pabrik pemintalan benang milik perusahaan tekstil Ha Nam di kota Phu Ly, sekitar 60 kilometer selatan Hanoi. (Foto: Ilustrasi)

Pilihan-pilihan terjangkau dalam hal pengurusan anak memungkinkan perempuan untuk tetap bekerja dan berkeluarga.

Meski Vietnam masih kesulitan dengan disu-isu pekerjaan dan gender, negara itu telah membuat langkah maju untuk kesetaraan dalam ekonominya. Mereka yang hadir di sebuah forum baru-baru ini di Ho Chi Minh City mengatakan salah satu rahasia keberhasilan itu adalah masalah pengurusan anak.

Ketika bekerja di kantor, perempuan Vietnam biasanya menitipkan anak pada orangtua mereka, pengasuh, atau para pegawai tempat penitipan anak yang semakin populer. Pilihan-pilihan yang terjangkau ini memungkinkan perempuan untuk bekerja dan tetap mengurus keluarga.

"Saya kira kondisi-kondisi untuk perempuan di Asia jauh lebih kondusif," ujar Duta Besar Belgia untuk Vietnam, Bruno Angelet baru-baru ini.

Berbicara dalam sebuah forum mengenai perempuan dalam bisnis yang juga disponsori oleh kedutaannya, Angelet mengatakan di Eropa, para ibu bekerja lebih kesulitan membayar tempat penitipan anak. Hal itu juga berlaku bagi imigran. Angelet mengatakan bahwa di Hanoi, ia sering menandatangani visa untuk warga Vietnam yang pergi ke Belgia untuk menjaga anak-anak saudara kandung atau cucu mereka.

Faktor Budaya

Namun beberapa tren pada masyarakat Vietnam dapat segera membuat manfaat ini hilang. Pertama, semakin banyak pasangan yang hidup jauh dari orangtua, karena lebih independen atau karena bekerja di luar kota. Dengan semakin sedikitnya rumah tangga berisikan tiga generasi di Vietnam, para ibu tidak bisa lagi bergantung pada ibu-ibu mereka untuk membantu menjaga anak-anaknya.

Selain itu, para pengasuh dan fasilitas penitipan anak saat ini murah karena Vietnam masih merupakan negara berpenghasilan menengah ke bawah. Namun seiring bertambah kayanya warga Vietnam, lebih sedikit yang mungkin mau bekerja sebagai pengasuh dan biaya ini akan meningkat.

Aktivis perempuan Ton Nu Thi Ninh, yang mengorganisir forum, mengatakan bahwa seiring evolusi Vietnam, negara itu tidak harus kehilangan semua nilai tradisi.

"Budaya itu penting," ujar Ninh, mantan diplomat dan anggota parlemen yang telah menjadi salah satu advokat terdepan untuk hak-hak perempuan. "Kita seharusnya menemukan kekuatan utama kita dan memilih nilai mana yang akan dibawa ke masa depan," ujarnya.

Beberapa dari kekuatan itu tercermin dalam data. Menurut Bank Dunia, Vietnam memiliki tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan 73 persen pada 2012, dibandingkan dengan 57 persen di Amerika Serikat dan 64 persen di China.

Namun tidak semuanya positif bagi ibu bekerja di Vietnam. Bahkan dengan pilihan tempat-tempat penitipan anak yang lebih baik, banyak yang meniti karir di perusahaan menemukan tantangan yang sama dengan perempuan-perempuan di Barat.

"Saya telah membuang masa muda dan waktu pribadi untuk bisnis saya," ujar Huynh Kim Phung, direktur perusahaan media dan kehumasan Truong Phat.

“Untuk menjadi pengusaha yang baik dan berhasil, kita harus menghabiskan banyak waktu di luar keluarga, dan terkadang komprominya sangat sulit."

Akhirnya Phung meyakinkan suaminya untuk mau berbagi tugas-tugas rumah tangga, yang menurut peserta forum adalah satu wilayah di mana Vietnam dapat membuat kemajuan dalam kesetaraan gender. Laki-laki harus lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak untuk membantu istri-istri mereka, terutama jika tempat penitipan yang mahal tidak terjangkau oleh warga Vietnam pada umumnya.

Para peserta juga membahas perubahan-perubahan struktural yang dapat dibuat di Vietnam, mulai dari perusahaan yang memberlakukan kuota dan magang untuk menarik lebih banyak pekerja perempuan, sampai kebijakan publik yang mendukung pengurusan anak dan kesetaraan pendapatan.

Pada 2012, Vietnam merupakan salah satu dari beberapa negara dimana kesenjangan gaji meningkat antara pria dan wanita, menjadi 30 persen, menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO).

Nguyen Hong Ha, wakil direktur jenderal Kamar Dagang dan Industri Vietnam, mengatakan negara itu memerlukan pergeseran budaya untuk memecahkan masalah tersebut.

“Ketika anak-anak lahir, mereka tidak tahu apakah mereka harus menghormati perempuan atau laki-laki," ujarnya. Kesetaraan gender adalah sesuatu yang harus diajarkan, sehingga masyarakat Vietnam harus mengajarkan bahwa laki-laki tidak hanya harus melakukan tugasnya, tapi perempuan juga harus percaya mereka juga dapat berhasil, tambahnya. (VOA/Lien Hoang)
XS
SM
MD
LG