Tautan-tautan Akses

Makin Banyak Perempuan Taiwan Bekukan Sel Telur


Proses pengekstraksian sel telur di sebuah laboratorium di Pusat Reproduksi e-Stork di Hsinchu, Taiwan utara (8/8). (Reuters/Pichi Chuang)

Proses pengekstraksian sel telur di sebuah laboratorium di Pusat Reproduksi e-Stork di Hsinchu, Taiwan utara (8/8). (Reuters/Pichi Chuang)

Tekanan masyarakat untuk bekerja dan mengurus keluarga telah menyebabkan semakin banyak perempuan Taiwan menunda menikah dan berkeluarga.

Terjebak di antara ekspektasi-ekspektasi tradisional dan tekanan-tekanan karir, perempuan pekerja di Taiwan semakin banyak yang memilih untuk membekukan telur-telur mereka di klinik fertilitas, karena mereka menunda menikah dan menjadi ibu.

Perempuan memainkan peranan besar dalam angkatan kerja Taiwan, hanya ada di belakang New Zealand dan Australia untuk jumlah pekerja perempuan di antara 14 negara di Asia, menurut laporan terakhir dari MasterCard.

Perlambatan ekonomi telah membuat keamanan pekerjaan semakin menjadi prioritas. Hal itu menjadi faktor yang mendorong usia menikah rata-rata di negara Asia Timur itu menjadi 30 tahun saat ini, dari 24 pada 1980an, dan dalam peningkatan ketertarikan membekukan telur.

“Saya tidak yakin kapan ovarium saya mulai menurun kualitasnya, namun saya yakin saya akan terlambat menikah dan saya yakin saya ingin menjadi ibu,” ujar Linn Kuo, 34, yang memilih membekukan sel telurnya tiga tahun lalu.

Kuo, seorang manajer di Cisco System Taiwan Ltd, memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi yang memungkinkannya bekerja di rumah. Meski karirnya menanjak mulus, Kuo mengatakan peruntungannya kurang dalam hal percintaan.

Setelah ibunya meninggal dunia, ia sadar pentingnya dukungan anak-anak saat usia tua.

“Saya melakukan riset dan akhirnya memutuskan membekukan sel telur saya,” ujarnya.

Lai Hsing-hua, direktur klinik di Pusat Reproduksi e-Stork di kota Hsinchu, mengatakan ia menyadari kebutuhan layanan pembekuan sel telur ketika banyak pasiennya meminta donor sel telur setelah menikah di usia di atas rata-rata.

“Kami pikir jika mereka membekukan sel telurnya lebih awal, barangkali mereka tidak perlu mendonasikan sel telur,” ujarnya.

“Itu sebabnya kami menggabungkan proses bayi tabung atau pembuahan in-vitro dengan konsep pencegahan, yaitu mencegah mereka menggunakan sel telur orang lain setelah kesuburan menurun.”

Klinik tersebut sekarang mendapatkan lebih dari 100 panggilan telepon sebulan yang menanyakan tentang pembekuan sel telur.

Lima tahun lalu, klinik ini hanya melakukan 20 prosedur. Jumlahnya naik menjadi 70 kasus pada 2011, lebih dari 50 tahun lalu dan sudah mencapai 40 pada enam bulan pertama tahun ini.

Teknologi tersebut telah semakin matang dan embrio yang dihasilkan memiliki tingkat bertahan lebih tinggi dengan pembekuan sel telur, ujar Lai. Biaya layanan sekitar US$2.680 dan proses mengambil sel telur memerlukan waktu sekitar 20 menit.

Chen Fen-ling, profesor pekerjaan sosial di National Taipei University, mengatakan bahwa tekanan masyarakat telah menyebabkan perempuan menunda menikah dan berkeluarga.

“Perempuan menikah itu seperti lilin yang terbakar di kedua ujungnya,” ujarnya. “Perempuan mengerjakan dua pekerjaan. Mereka menghasilkan uang pada siang hari, namun saat kembali ke rumah, mereka harus mengurus anak dan mertua. Tekanan ini seringkali menyebabkan perempuan ragu menikah.”

Realitas mengenai karir, pernikahan dan menjadi ibu tercermin dalam angka kelahiran yang sangat rendah. Taiwan sejajar dengan Hong Kong dalam posisi ketiga secara global terkait jumlah rata-rata anak yang lahir per perempuan, hanya di atas Makau dan Singapura, menurut data CIA World Factbook. (Reuters)
XS
SM
MD
LG