Tautan-tautan Akses

50 Tahun Berlalu, Ritual Purba di Bali Kembali Diadakan untuk Tolak Bencana


Warga bersiap mengadakan upacara di Bali. (Foto: Ilustrasi)

Warga bersiap mengadakan upacara di Bali. (Foto: Ilustrasi)

Ritual purba Karya Padudusan Agung diadakan setiap tiga atau empat dekade untuk membangkitkan kembali kekuatan pura yang telah memudar dan membawa kedamaian di Bumi.

Terakhir kali Wayan Rendeh ambil bagian dalam upacara di pura di kampung halamannya, Desa Juga di Bali, manusia belum mendarat di bulan.

Ritual purba Karya Padudusan Agung, yang terjemahan bebasnya adalah kerja besar, diadakan setiap tiga atau empat dekade untuk membangkitkan kembali kekuatan pura yang telah memudar dan membawa kedamaian di Bumi.

Rendeh, 76, ada di antara beberapa ribu jemaat berpakaian putih yang berkumpul Selasa (6/1) di pura Siwa, dewa kehancuran, untuk ritual-ritual pertama sejak 1968 di Bali.

Di dalam pura, para pendeta memberikan sesajen biji-bijian, bunga, buah dan daging untuk menenangkan Siwa dan permaisurinya, Durga, diiringi dentingan lonceng.

Gadis-gadis kecil berkain putih dan kuning, dengan hiasan kepala dari daun palem dan bunga marigold, menari di dalam kompleks pura dengan iringan musik gamelan yang sakral.

Anak-anak muda pria menyeret seekor banteng untuk memutari pura tiga kali sebelum hewan itu disembelih sebagai simbol pemberian makanan untuk roh jahat. Kambing, babi, kura-kura, ikan dan ulat juga dikorbankan.

"Pengorbanan ini merupakan simbol karakter manusia -- serakah, malas, bodoh dan pemarah," ujar Mangku Puseh Juga, salah satu dari 36 pendeta yang hadir untuk menyucikan pura.

​"Tujuan utamanya adalah menyeimbangkan alam secara makro dan dunia miro dalam setiap manusia."

Lebih Besar

Upacara tahun ini lebih mewah daripada yang Rendeh saksikan hampir setengah abad yang lampau.

"Upacara saat itu tidak terlalu besar. Kami lebih miskin," ujar Rendeh, warga desa yang berisikan banyak pemahat kayu di luar Ubud.

Pada 1968, desa Juga terasing dari wilayah lainnya di Bali, tanpa jalan dan hanya sedikit pengunjung yang datang menyusul letusan Guung Agung puluhan kilometer jaraknya.

Wayan Lebih, 55, mengatakan upacara puluhan tahun lalu telah mengubah peruntungan Juga, yang telah makmur dan menghasilkan banyak lapangan pekerjaan dari penjualan pahatan kayu.

Persiapan Berbulan-bulan

Perayaan besar pada 2015 memakan biaya hampir Rp 2 milyar yang dikumpulkan dari masyarakat, dengan masing-masing keluarga menyisihkan sedikitnya Rp 20.000 setiap minggu selama dua tahun untuk mencapai anggaran yang diinginkan.

Warga desa juga secara sukarela bekerja selama enam bulan untuk tugas-tugas termasuk melapisi patung-patung Barong dan Rangda -- inkarnasi Siwa dan Durga -- dengan jutaan biji yang telah diwarnai.

Ritual-ritual dalam perayaan itu diharapkan akan mencegah bencana dan mengurangi masalah di dunia.

Mangku Ketut Suarjana, salah satu pendeta yang memimpin upacara di pura Juga, mengatakan tidak bijak untuk hanya mengharapkan kabar baik.

"Hanya dewa-dewa yang dapat mencegah bencana. Kita hanya dapat meminta... tapi selanjutnya terserah para dewa." (Reuters)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG