Tautan-tautan Akses

Laporan HAM: Pejuang ISIS Gunakan Perkosaan Sebagai Senjata


Donatella Rovera, penasihat tanggap krisis senior Amnesty International (Foto: dok).

Donatella Rovera, penasihat tanggap krisis senior Amnesty International (Foto: dok).

Amnesty International menerbitkan laporan hasil wawancara dengan 42 wanita dan anak-anak perempuan, yang berhasil melarikan diri dari kelompok militan ISIS, Selasa (23/12).

Organisasi HAM Amnesty International mengatakan kelompok militan ISIS menggunakan "tindakan perkosaan sebagai senjata" terhadap kaum perempuan suku Yazidi yang dibawa dari Irak utara. Tindakan ini dianggap kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Amnesty International menerbitkan sebuah laporan, Selasa (23/12), yang merinci berbagai laporan dari hasil wawancara dengan 42 wanita dan anak-anak perempuan, yang berhasil melarikan diri dari kelompok militan itu dan dari beberapa orang lainnya yang masih disekap. Wawancara tersebut mencakup penyiksaan fisik dan psikologis, termasuk perkosaan, dan kejahatan seksual lainnya.

Beberapa orang yang sempat melarikan diri, mengisahkan perlakuan yang mereka alami adalah yang mungkin menyebabkan seorang gadis umur 19 tahun melakukan bunuh diri, dan menyebabkan orang-orang lainnya berusaha melakukan bunuh diri pula.

Donatella Rovera, penasihat tanggap krisis senior pada Amnesty International, menyebut penderitaan fisik dan psikologis tersebut sebagai "malapetaka." Ditambahkan, bahkan mereka yang berhasil melarikan diri dari ISIS, masih menderita " trauma yang dalam.

XS
SM
MD
LG