Tautan-tautan Akses

Kredit Macet di Sektor Pertambangan Naik Hampir 100% Bulan Juli


Tambang bijih nikel Mobi Jaya Persada di desa Dampala di Marowali, Sulawesi Tengah. (Foto: Ilustrasi)

Tambang bijih nikel Mobi Jaya Persada di desa Dampala di Marowali, Sulawesi Tengah. (Foto: Ilustrasi)

Penambang komoditas mulai dari batu bara sampai tembaga di negara ini telah kesulitan membayar utang akibat turunnya permintaan.

Kredit-kredit macet di sektor pertambangan Indonesia naik hampir dua kali lipat bulan Juli dari setahun sebelumnya, menurut data terbaru dari pihak berwenang, meskipun ada puaya dari bank-bank untuk meningkatkan provisi dan menurunkan peminjaman.

Tingkat kredit macet kotor (NPL) di industri pertambangan dan penggalian naik selama empat bulan berturut-turut menjadi 6,77 persen dari total pinjaman pada sektor tersebut bulan Juli, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setahun sebelumnya, nilainya mencapai 3,82 persen.

Secara keseluruhan, kredit macet mencakup 3,18 persen dari total pinjaman pada sektor perbankan, naik dari 2,70 persen setahun sebelumnya. Namun itu masih di bawah ambang 5 persen yang ditetapkan regulator sebagai tolok ukur kesehatan perbankan.

Penambang komoditas mulai dari batu bara sampai tembaga di negara ini telah kesulitan membayar utang akibat turunnya permintaan dan pasokan yang berlebih mengganggu aliran uang tunai.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan kepada wartawan hari Kamis bahwa ia prihatin dengan kenaikan kredit macet, tanpa menyebutkan sektor yang paling parah terkena.

Beberapa bank telah membentuk "unit-unit khusus" untuk meningkatkan kualitas pinjaman mereka, namun "ada bank-bank yang masih memerlukan lebih banyak waktu," ujar Agus.

Bank terbesar berdasarkan aset, PT Bank Mandiri Tbk, mengatakan bulan Juli bahwa mereka akan memperkuat manajemen risiko dan merestrukturisasi pinjaman-pinjaman tertentu setelah melaporkan penurunan 29 persen dari laba bersih semester pertama akibat kenaikan tajam provisi, atau dana-dana yang disimpan oleh bank untuk mengantisipasi kredit macet.

Mandiri meningkatkan provisinya lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 9,9 triliun, dari Rp 4 trilun setahun sebelumnya.

PT Bank Central Asia Tbk memberikan beberapa pinjaman untuk bisnis-bisnis pendukung pertambangan seperti transportasi dan peralatan berat, namun tingkat kredit macetnya dapat ditekan di bawah 1,75 persen, menurut Presiden Direktur Jahja Setiaatmadja dalam SMS hari Jumat (23/9). [hd]

XS
SM
MD
LG