Tautan-tautan Akses

Kota-kota Indonesia Menuju Konsep 'Smart City'

  • R.Teja Wulan

Konferensi Smart City di Kampus ITB, Bandung. (VOA/R. Teja Wulan)

Konferensi Smart City di Kampus ITB, Bandung. (VOA/R. Teja Wulan)

Konsep ini diyakini bisa menyelesaikan berbagai masalah perkotaan seperti kemacetan, penumpukan sampah, dan keamanan warga kota.

Konsep “smart city” atau kota cerdas kini mulai diterapkan di berbagai kota besar di Indonesia. Konsep ini merupakan impian bagi kota-kota di Indonesia karena diyakini bisa menyelesaikan berbagai masalah perkotaan seperti kemacetan, penumpukan sampah, dan keamanan warga kota.

Konsep kota cerdas ini mengetengahkan sebuah tatanan kota yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat.

Beberapa kota besar di Indonesia yang sudah menerapkan konsep “smart city” ini antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Malang.

Dalam “Konferensi Smart City” yang diselenggarakan di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini, terungkap bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap teknologi, terutama teknologi informasi, kini sangat tinggi.

Mahfudz Siddiq, ketua Komisi I DPR yang membawahi bidang pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika serta intelijen, mengatakan bahwa survei menunjukkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 80 juta orang. Dari jumlah tersebut, 87 persen memanfaatkan Internet untuk mengakses media sosial.

Jumlah pengguna kartu telepon seluler atau SIM card yang beredar pun melampaui jumlah penduduk Indonesia, yaitu 260 juta keping kartu. Keterampilan menggunakan fasilitas internet dan teknologi informasi lain sudah sedemikian melekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Fenomena ini merupakan salah satu modal utama penciptaan kota cerdas atau “smart city”.

"Tahun 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan pengguna Internet di Indonesia mencapai 150 juta orang. Dan yang menarik, berdasarkan survei, 51 persen pengguna Internet itu adalah wanita dan 80 persen dari pengguna itu umumnya mereka yang berusia muda," ujarnya.

Budayawan Yasraf Amir Piliang menilai pembentukan kota cerdas tidak terlepas dari “smart society” atau masyarakat yang cerdas. Menurut Yasraf, penggunaan teknologi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari bukan merupakan satu-satunya syarat untuk penerapan “smart city”.

Ia mengatakan bahwa masyarakat harus memahami betul apa peran teknologi dalam membangun sebuah masyarakat, yang salah satu diantaranya adalah kesadaran bahwa kita hidup dalam sebuah jejaring, yang merupakan esensi dari sebuah masyarakat yang cerdas.

“Kata ahli, teknologi bisa membuat orang cerdas, tapi juga bisa membuat orang tetap bodoh. Yang cerdas adalah teknologinya, tapi orangnya tetap bodoh. Oleh karena itu di dalam masyarakat kita permasalahan yang sangat besar adalah kontradiksi kultural. Artinya apa? Teknologinya tinggi tapi masyarakatnya rendah. Teknologinya cerdas tapi masyarakatnya bodoh," ujarnya.

Yasraf menambahkan, yang harus diwaspadai sebelum membentuk “smart city” adalah jurang pemisah antara teknologi dengan cara berpikir masyarakat atau yang disebut dengan istilah “cultural lag”. Ini harus segera diselesaikan, ujarnya, agar teknologi yang cerdas bisa berperan dalam membangun masyarakat yang cerdas, sehingga perkembangan teknologi dan perkembangan sosial sejalan dan tidak terpisahkan.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan Surabaya sudah sejak lama menerapkan konsep konsep kota cerdas, bahkan menjadi pionir penerapan konsep itu di Indonesia.

Menurut Risma, konsep e-government dan e-procurement sudah diterapkan di Kota Surabaya sejak tahun 2002. Konsep lainnya seperti e-budgeting, e-delivery, e-controlling, dan e-monitoring diterapkan kemudian. Dalam konsep e-monitoring, pemerintah kota Surabaya misalnya bisa memantau situasi seluruh kota, mulai dari lalu lintas jalan raya hingga kondisi tempat pembuangan sampah.

“Dalam pemantauan sampah ini saya harus tahu sampah yang masuk ke TPA itu setiap hari ada berapa ton. Kemudian nomor truknya berapa saja. Dari mana saja truk itu. Nah saya harus memantau seperti itu," ujarnya.

Guna mewujudkan konsep “smart city” di Indonesia, saat ini ITB telah bekerjasama dengan perusahaan teknologi informasi menciptakan berbagai inovasi Smart System Platform (SSP). SSP adalah wadah berbagai informasi dengan layanan GPS, CCTV, dan informasi kota seperti kepegawaian, kesehatan, pendidikan, dan kependudukan.

Ke depan, SSP ini akan diterapkan di seluruh kota di Indonesia, yaitu di 500 kota dan kabupaten di Indonesia. Inovasi lainnya yang saat ini dibuat oleh peneliti dari ITB adalah Smart Energy, Smart Tourism, Smart School, dan Smart Health. (TW/EM)

XS
SM
MD
LG