Tautan-tautan Akses

Korban Tewas Akibat Gempa di Aceh Terus Meningkat


Seorang pria mengambil sebuah kotak makanan dari bawah reruntuhan bangunan pasca gempa yang menghantam wilayah Pidie Jaya, provinsi Aceh, Indonesia, 7 Desember 2016 (AP Photo/Heri Juanda).

Seorang pria mengambil sebuah kotak makanan dari bawah reruntuhan bangunan pasca gempa yang menghantam wilayah Pidie Jaya, provinsi Aceh, Indonesia, 7 Desember 2016 (AP Photo/Heri Juanda).

Survei Geologi AS mengatakan, gempa dengan kekuatan 6,5 SR berpusat dekat kota Reuleut. Badan Metereologi dan Geofisika Indonesia mengatakan, gempa itu tidak menciptakan tsunami.

Jumlah korban tewas akibat gempa kuat yang menghantam Aceh, Rabu pagi (7/12), terus meningkat.

Sejumlah pejabat setempat mengatakan, sedikitnya 97 tewas dan ratusan lainnya cedera di Pidie Jaya, kawasan yang terletak dekat pusat gempa di ujung utara Pulau Sumatera. Kota Meureudu merupakan salah satu kawasan yang paling parah dihantam gempa itu.

Guncangan yang keras merobohkan puluhan gedung, termasuk masjid, toko dan rumah. Tim SAR berusaha mencari korban yang masih hidup di antara reruntuhan. Beberapa di antara mereka bekerja dengan menggunakan peralatan berat.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan melalui sebuah pernyataan, “gempa bumi terasa sangat kuat dan banyak orang panik berlarian ke luar ketika rumah mereka ambruk.”

Survei Geologi AS mengatakan, gempa dengan kekuatan 6,5 SR berpusat dekat kota Reuleut. Badan Metereologi dan Geofisika Indonesia mengatakan, gempa itu tidak menciptakan tsunami.

Indonesia terletak di kawasan yang rawan gempa. Gempa di lepas pantai Sumatera tahun 2004 memicu tsunami yang menewaskan 230 ribu orang di Indonesia dan sejumlah negara lain.

Kekhawatiran akan terjadinya bencana serupa sempat melanda sejumlah orang yang merasakan gempa Rabu itu. Musman Aziz, warga Meureudu, mengatakan kepada Associated Pers, “Gempa itu sangat dahsyat. Guncangan bahkan terasa lebih kuat dibanding yang terjadi pada tahun 2004.” [ab/as]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG