Tautan-tautan Akses

Kebijakan Imigrasi Obama Dianggap Persulit Hubungan dengan Kongres

  • Greg Flakus

Michele Bachmann, politisi dari Partai Republik berbicara dengan para reporter di Gedung Capitol mengecam kebijakan Obama dalam hal imigrasi (foto:dok).

Michele Bachmann, politisi dari Partai Republik berbicara dengan para reporter di Gedung Capitol mengecam kebijakan Obama dalam hal imigrasi (foto:dok).

Sebagian pengamat mengatakan kebijakan Obama dalam hal imigrasi merugikan tujuan jangka panjangnya untuk meloloskan perjanjian komprehensif dengan Kongres.

Dalam rentang waktu beberapa putaran pemilu di Amerika, telah muncul imbauan melakukan reformasi imigrasi secara komprehensif untuk memperbaiki sistem yang dianggap rusak oleh kedua spektrum politik, yakni Partai Republik maupun Partai Demokrat. Tetapi sebagian pengamat mengatakan tindakan eksekutif Presiden Barack Obama baru-baru ini untuk mencegah sebagian imigran gelap agar tidak dideportasi telah merugikan tujuan jangka panjangnya untuk meloloskan perjanjian komprehensif dengan Kongres.

Tindakan eksekutif Presiden Obama baru-baru ini memungkinkan sekitar empat juta penduduk gelap di Amerika Serikat untuk mengajukan permohonan status hukum sementara. Tapi tanpa persetujuan Kongres, Presiden Obama tidak akan dapat mencapai reformasi imigrasi menyeluruh.

Partai Republik, yang memenangkan mayoritas di kedua majelis Kongres dalam pemilu paruh waktu November lalu, menanggapi langkah presiden itu melalui Ketua DPR, John Boehner.

“Alih-alih bekerja sama untuk memperbaiki sistem imigrasi yang rusak, Presiden justru mengatakan ia bertindak sendiri. Itu sama sekali tidak menunjukkan bagaimana demokrasi kita berjalan,” kata Boehner.

Tony Payan, Direktur Mexico Center di Baker Institute, Rice University, mengatakan tindakan Presiden Obama itu akan membantu banyak orang keluar dari bayang-bayang atau ketidakjelasan.

“Dan pada dasarnya mereka akan sedikit lebih terintegrasi secara hukum dan formal ke dalam perekonomian dan masyarakat Amerika. Tetapi perintah eksekutif presiden itu juga sangat kontraproduktif karena mempolarisasi banyak anggota kongres dari Partai Republik yang mungkin telah bersedia untuk berbuat sesuatu pada sistim imigrasi,” papar Tony Payan.

Walaupun sebagian imigran gelap mendukung langkah presiden itu, sebagian yang lain berperasaan campur aduk tentang apa yang mereka pandang sebagai suatu perbaikan yang bersifat sementara itu, seperti diungkapkan seorang imigran yang mengatakan, “Kita perlu solusi yang benar-benar membantu dan presiden hendaknya menepati janjinya, tetapi langkah itu harus diambil bersama-sama dengan Kongres.”

Tony Payan mengatakan ada keprihatinan terkait pengajuan permohonan status legal sesuai perintah eksekutif presiden yang bersifat sementara itu.

“Begitu mereka menyerahkan informasi pribadi mereka kepada pemerintah, setelah pemerintah tahu siapa mereka dan di mana mereka berada dan jika presiden berikutnya tidak bersedia memperpanjang status sementara itu, maka mereka akan dapat ditemukan dengan sangat cepat dan bisa dideportasi,” kata Payan.

Partai Republik mengatakan mereka ingin mengamankan perbatasan dengan Meksiko sebelum menyetujui langkah-langkah lain. Gelombang imigran dari Amerika Tengah di perbatasan Texas awal tahun ini menggarisbawahi keprihatinan itu.

Partai Republik juga menentang usulan Partai Demokrat untuk apa yang disebut “jalan menuju kewarganegaraan,” yang mereka anggap sebagai taktik untuk meningkatkan basis pemilih Partai Demokrat.

Tetapi Charles Foster, seorang pengacara imigrasi di kota Houston, Texas, mengatakan sebagian besar imigran berusaha memperoleh status penduduk legal, bukan naturalisasi penuh.

Para analis mengatakan masih akan memungkinkan bagi kongres yang dikuasai Partai Republik dan Presiden Obama untuk mencapai kesepakatan pada setidaknya beberapa bagian dari reformasi imigrasi tahun depan, tetapi reformasi penuh kemungkinan akan tertunda sampai setelah pemilihan presiden 2016.

XS
SM
MD
LG