Tautan-tautan Akses

Jerman Selatan Dilanda Serangkaian Serangan


Polisi anti-teror Jerman mengamankan lokasi tempat tinggal pelaku serangan bunuh diri di Ansbach, Jerman, dalam usaha mencari barang bukti, Senin (25/7).

Polisi anti-teror Jerman mengamankan lokasi tempat tinggal pelaku serangan bunuh diri di Ansbach, Jerman, dalam usaha mencari barang bukti, Senin (25/7).

Jerman kewalahan akibat empat serangan kekerasan dalam seminggu ini. Sudah 10 orang tewas dan banyak lainnya luka-luka dalam serangan senjata api, bom, kapak dan parang: tiga serangan di negara bagian Bavaria, di bagian selatan Jerman, dan satu di Baden-Wuerttemberg.

Pihak berwenang mengatakan serangan-serangan itu tidak saling terkait, tetapi mereka semakin prihatin atas situasi keamanan di negara itu.

Serangan terbaru terjadi hari Minggu di dekat lokasi konser terbuka di kota kecil Ansbach, Bavaria. Seorang laki-laki warga Suriah, usia 27 tahun, meledakkan diri dan melukai 15 orang. Militan ISIS mengaku bertanggungjawab atas serangan itu dan pejabat-pejabat Jerman hari Senin mengatakan mereka menemukan bukti bahwa pengakuan itu mungkin benar.

Joachim Herrmann, Menteri Dalam Negeri Bavaria mengatakan, "Pada telepon genggamnya ada video yang menunjukkan dia berbicara dalam bahasa Arab yang terjemahannya secara kasar adalah ancaman melakukan serangan. Dalam video itu, secara tegas ia menyatakan, 'dengan nama Allah' dan menyatakan setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi, sebagai aksi balas dendam atas Jerman yang menurutnya menghalangi Islam, dan sebagai balasan atas pembunuhan kaum Muslim."

Ketika menggeledah tempat tinggal laki-laki itu, polisi menemukan berbagai bahan yang bisa digunakan membuat bahan peledak.

Tetapi pembunuhan seorang perempuan oleh warga Suriah lain sebelumnya hari Minggu (24/7) tampaknya tidak terkait terorisme. Sementara, remaja Jerman keturunan Iran yang menembak mati sembilan orang dan dirinya sendiri di Munchen punya riwayat sakit jiwa. Tidak ada indikasi ia terkait kelompok teroris apapun, tetapi tampaknya ia sudah merencanakan serangan itu selama beberapa waktu.

Seorang remaja pengungsi Afghanistan yang melukai lima penumpang di kereta dengan kapak dan pisau pekan lalu, sebelum ditembak oleh polisi, mengaku setia kepada ISIS.

Juru bicara pemerintah Jerman, Ulrike Demmer, mengatakan, “Aksi kekerasan dalam beberapa hari dan minggu terakhir tidak menunjukkan keseragaman. Umumnya teroris yang melakukan serangan di Eropa dalam beberapa bulan ini bukan pengungsi. Fakta ini sesuai dengan hasil kajian yang menunjukkan bahwa bahaya terorisme yang dilakukan pengungsi tidak lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan yang dilakukan oleh penduduk lainnya."

Warga Jerman terguncang oleh lonjakan kekerasan itu.

Claudia Frosch, saksi serangan bom di Ansbach, mengatakan, "Tentu saja, kini kami merasa lebih takut, tetapi saya tidak menentang orang asing maupun pencari suaka."

Menurut pejabat-pejabat, Jerman harus siap dan memiliki perlengkapan untuk mencegah serangan-serangan seperti itu yang kemungkinan terjadi pada masa depan. [ka/ds]

XS
SM
MD
LG