Tautan-tautan Akses

Jepang akan Bangun Kota Hemat Energi di Daerah yang Hancur oleh Gempa dan Tsunami

  • Steve Herman

Kota Ofunato di Perfektur Iwate, Jepang, yang hancur akibat tsunami setahun lalu ini akan menjadi salah satu tempat bagi proyek tenaga surya pertama dunia dengan listerik yang didistribusikan lewat baterei-baterei lokal bagi masyarakat di kota itu.

Kota Ofunato di Perfektur Iwate, Jepang, yang hancur akibat tsunami setahun lalu ini akan menjadi salah satu tempat bagi proyek tenaga surya pertama dunia dengan listerik yang didistribusikan lewat baterei-baterei lokal bagi masyarakat di kota itu.

Jepang berencana membangun enam wilayah hemat energi yang disebut “kota-kota masa depan” di kawasan yang hancur akibat gempa berkekuatan 9.0 dan tsunami setahun lalu.

Setelah tsunami 11 Maret menghanyutkan sebagian wilayah pantai dan banyak penduduknya, banyak pihak di Jepang khawatir sebagian kota di pesisir akan musnah selamanya. Tetapi, Jepang sekarang berencana membangun lagi sebagian dari wilayah itu sebagai kota-kota hemat energi. Sebagian ide itu sangat ambisius.

Tiga kota yang hancur, Ofunato, Rikuzentakata, dan Sumida Kesen, akan menjadi tempat bagi proyek tenaga surya pertama dunia dengan listerik yang didistribusikan lewat baterei-baterei lokal bagi masyarakat di tiga kota itu.

Kota Kamaishi berencana membuat aliran listerik untuk konsumsi warga setempat dan membangun industri-industri baru. Kota Higashi Matsushima akan mengggunakan teknologi canggih untuk menciptakan kota yang tahan bencana. Iwanuma akan menggunakan sisa-sisa dari bencana alam untuk membangun kembali lingkungan alam. Kota itu juga akan punya jaringan listerik bertenaga surya.

Kota Shinichi berencana menjadi “wilayah informasi infrastruktur”, sementara Minamisoma berupaya menjadi kota bertema “daur ulang energi,” mungkin dengan menggunakan tenaga angin.

Minyak impor masih berperan besar dalam perekonomian Jepang, khususnya sejak hampir semua reaktor nuklir di negara itu tidak berfungsi saat ini karena berbagai alasan. Pemerintah mencari ide bagi energi alternatif.

Pada seminar di Fukushima, sebagian orang yang berasal dari kota yang hancur itu, para pakar internasional, dan diplomat mendapat penjelasan hari Jumat dari pimpinan kalangan akademisi yang membahas sebagian usul pembangunan dengan teknologi canggih itu.

Arkitek dan insinyur Shuzo Murakami mengatakan penduduk “kota masa depan” bukan hanya akan mengatur penggunaan listerik mereka, tetapi juga bisa menciptakan dan menyimpan tenaga listerik di rumah mereka masing-masing.

Tetapi Murakami memperingatkan kota-kota baru itu tidak bisa dirancang dengan hanya mengucurkan uang untuk pembangunan. Kota-kota itu, katanya, perlu mandiri dan berkesinambungan, sehingga orang mau tinggal lama di kota-kota itu.

Para warga yang selamat dari bencana dan perencana khawatir proyek-proyek itu tidak ada manfaatnya. Jepang telah menyaksikan itu sejak lama di mana politisi dan perusahaan-perusahaan konstruksi berkolusi, terutama untuk saling memperoleh keuntungan.

Pembicara utama pada seminar Fukushima itu, Richard Jones, wakil direktur eksekutif Badan Energi Internasional, mengatakan kepada VOA para pembuat keputusan Jepang perlu memusatkan perhatian pada kebutuhan rakyat bukan pada keinginan perusahaan-perusahaan besar Jepang.

Jepang mengatakan kebutuhan dasar di kota-kota yang hancur itu adalah pembangunan kembali secepat mungkin.

Jones, mantan duta besar Amerika untuk empat negara, mengatakan kota-kota hemat energi di Denmark, Inggeris, Jerman, dan Swedia merupakan contoh yang bisa dipelajari Jepang.

XS
SM
MD
LG