Tautan-tautan Akses

Hubungan Keluarga, Pernikahan Rusak Pasca Pilpres AS


Pendukung Hillary Clinton dan pendukung Donald Trump berdampingan membawa poster dukungan masing-masing dalam parade Hari Pahlawan di Chappaqua, New York. (Foto: Dok)
Pendukung Hillary Clinton dan pendukung Donald Trump berdampingan membawa poster dukungan masing-masing dalam parade Hari Pahlawan di Chappaqua, New York. (Foto: Dok)

Sejumlah warga Amerika mengatakan luka emosional akibat pilpres AS masih menganga dan belum ada tanda-tanda terobati.

Semangat membara terhadap kepresidenan Donald Trump menelan korban di kedua belah pihak setelah pemilihan umum di AS. Bagi Gayle McCormick, hal ini membuat hatinya patah: ia berpisah dengan suaminya yang telah ia nikahi selama 22 tahun.

Pensiunan penjaga penjara California itu, yang menggambarkan dirinya sebagai "Demokrat yang cenderung sosialis," terhenyak ketika suaminya dengan santai mengatakan dalam makan siang dengan kawan-kawan mereka tahun lalu bahwa ia berencana memilih Trump -- pengakuan yang menurut McCormick "tidak terampuni."

Tiga bulan setelah pemilihan umum yang paling memecah belah dalam politik modern AS itu meretakkan keluarga dan hubungan percintaan, sejumlah warga Amerika mengatakan luka emosionalnya masih menganga dan belum ada tanda-tanda terobati.

Dendamnya belum hilang, tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan situasi malah memburuk, memperlihatkan jarak yang melebar antara Republik dan Demokrat dan mengerasnya posisi-posisi ideologis yang menurut para sosiolog dan ilmuwan politik meningkatkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan akan membuat kompromi politik semakin sulit.

Gayle McCormick di dapur apartemennya di Bellingham, Washington (2/2).
Gayle McCormick di dapur apartemennya di Bellingham, Washington (2/2).

Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang mencakup 6.426 orang, dilakukan dari 27 Desember sampai 18 Januari, menunjukkan jumlah responden yang bertengkar dengan keluarga dan teman mengenai politik melonjak 6 persen dari jajak pendapat pra-pemilu di puncak kampanye bulan Oktober, naik menjadi 39 persen dari 33 persen.

Enam belas persen mengatakan mereka telah berhenti berbicara dengan seorang anggota keluarga atau teman karena pemilu -- atau naik dari 15 persen. Jumlah itu lebih tinggi, 22 persen, di antara mereka yang memilih Hillary Clinton. Secara keseluruhan, 13 persen responden mengatakan mereka telah mengakhiri hubungan dengan anggota keluarga atau sahabat setelah pemilu, dibandingkan dengan 12 persen bulan Oktober.

"Situasinya cukup berat untuk saya," ujar Rob Brunello, 25, dari Mayfield Heights, Ohio, seorang sopir truk yang mengalami tentangan dari keluarga dan teman-teman karena mendukung Trump.

"Orang-orang tidak percaya Trump dapat mengalahkan Hillary. Mereka kesulitan menerima hal itu," katanya.

Persahabatan Berkembang

Pada saat yang sama, banyak orang melaporkan bahwa hubungan mereka tidak memburuk karena pemilu. Jajak pendapat itu menemukan sekitar 40 persen tidak bertengkar dengan anggota keluarga atau teman karena pemilihan presiden.

Pilpres itu juga memungkinkan sejumlah signifikan orang untuk membentuk ikatan baru. Dua puluh satu persen mengatakan mereka kemudian berteman dengan seseorang karena pemilu, meskipun jajak pendapat itu tidak bertanya pada responden apakah orang itu dari partai lain.

Sandi Corbin, seorang pensiunan di East Galesburg, Illinois, mengatakan ia telah mengunjungi beberapa teman baru yang ia kenal karena mereka saling mendukung Clinton. "Kami selalu berbicara setiap saat sekarang," ujarnya. "Saya kira itu dampak positif pemilu ini."

Para demonstran anti-Trump di dalam protes dekat Gedung Putih (20/1). (VOA/G. Flakus)
Para demonstran anti-Trump di dalam protes dekat Gedung Putih (20/1). (VOA/G. Flakus)

Gairah dalam pemilu itu luber ke jalanan sejak pelantikan Trump pda 20 Januari. Ratusan ribu orang berbaris di jalanan sehari setelah Trump menjabat, dan ada demonstrasi-demonstrasi melawan larangan perjalanan bagi orang-orang dari tujuh negara mayoritas Muslim.

Bertengkar soal Trump telah menjadi realitas pahit bagi banyak warga Amerika.

"Begitu orang-orang tahu saya memilih Trump, situasi langsung panas," ujar William Lomey, 64, pensiunan polisi di Philadelphia yang tidak lagi berbicara dengan teman masa kecilnya setelah mereka berseteru di Facebook soal pemilu.

"Saya mempertanyakan beberapa hal, ia tidak suka, kemudian meledak marah dan meninggalkan pesan-pesan kasar dan kami tidak pernah berbicara lagi."

Temannya itu gay dan khawatir dengan retorika kampanye Trump yang seringkali merendahkan kelompok-kelompok minoritas termasuk Muslim, Hispanik, imigran dan difabel.

"Saya kira orang-orang terlalu tegang," ujar Lomey.

Sue Koren, 57, seorang pendukung Clinton di Dayton, Ohio, mengatakan ia tidak sanggup bicara dengan dua putranya yang mendukung Trump dan ia telah meng-"unfriend" sekitar 50 orang di Facebook yang mendukung presiden.

"Hidup tidak seperti sebelum pemilu," ujarnya. "Saya marah, frustrasi, tidak percaya. Mereka pikir presidennya pahlawan dan menurut saya ia gila."

Sementara itu, suami McCormick mengubah pikirannya tentang Trump, tapi saat itu McCormick telah memutuskan untuk hidup sendiri.

Meskipun pasangan itu berencana berlibur bersama dan tidak akan bercerai -- "kami terlalu tua untuk itu" -- ia sekarang ini tinggal sendirian di rumahnya di Bellingham, Washington.

"Saya tidak ingin ada dalam posisi dimana saya harus menyampaikan argumen saya 24 jam sehari 7 hari semingu. Saya tidak ingin menghabiskan sisa umur saya melakukan hal itu," ujar McCormick, yang memilih Bernie Sanders.

Di St. Charles, Missouri, pensiunan operator perusahaan tur Dennis Conner, yang mendukung Trump, mengatakan ia menghindari konfrontasi dengan abangnya, kakak iparnya dan abang iparnya, yang mendukung Clinton.

Sarannya: "Kita tidak harus bicara soal politik." [hd]

XS
SM
MD
LG