Tautan-tautan Akses

Demonstran Washington Protes Gerakan ‘Alt-Right’


Stephen Bannon, CEO kampanye presiden terpilih Donald Trump, meninggalkan Trump Tower di New York, Jumat, 11 November. Trump mengangkat pemilik media konservatif tersebut sebagai strategis presiden tertingginya.

Stephen Bannon, CEO kampanye presiden terpilih Donald Trump, meninggalkan Trump Tower di New York, Jumat, 11 November. Trump mengangkat pemilik media konservatif tersebut sebagai strategis presiden tertingginya.

Para demonstran berkumpul di luar sebuah gedung kantor di tengah kota Washington, Sabtu (19/11), di mana kalangan nasionalis kulit putih, yang juga dikenal sebagai alt-right, bertemu untuk merayakan kemenangan presiden terpilih Amerika Donald Trump.

Laporan media menyebutkan tidak ada yang ditahan, tetapi sedikitnya satu orang cedera dalam bentrokan dengan demonstran di luar Ronald Reagan Building and International Trade Center, yang hanya berjarak beberapa blok dari Gedung Putih.

Demonstrasi meningkat di Amerika, memprotes terpilihnya Trump dan orang-orang yang diangkatnya, terutama penunjukan Stephen Bannon sebagai kepala penasihat dan strategi Gedung Putih. Bannon, mantan pemimpin eksekutif Breitbart News Network sebelum ia memimpin tim kampanye Trump, mengatakan kepada majalah Mother Jones bahwa Breitbart adalah “platform bagi alt-right”, suatu kelompok yang secara umum dianggap menjunjungi supremasi kulit putih dan menentang keberagaman, feminisme dan imigrasi.

Keberhasilan Trump tampaknya membuat gerakan alt-right bersemangat untuk lebih vokal mengemukakan berbagai isu, termasuk kekhawatiran bahwa warga kulit putih akan menjadi minoritas di Amerika.

The National Policy Institute (NPI), tuan rumah pertemuan di tengah kota Washington, menyatakan di situs Internetnya bahwa ini adalah organisasi independen yang didedikasikan bagi warisan, identitas dan masa depan orang-orang keturunan Eropa di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.” Disebutkan pula bahwa NPI “didedikasikan untuk membangkitkan lagi dan dan memajukan orang-orang kami.”

Sebagian analis menggolongkan NPI dan para pengikutnya sebagai Ku Klux Klan terselubung.

“Mereka adalan kelompok pendukung supremasi kulit putih, neo-Nazi dan neo-Fasis,” kata seorang demonstran kepada stasiun televisi lokal WJLA. “Pada waktu kita berhadapan dengan mereka, pada dasarnya kita menghadapi sesuatu yang mengancam hak-hak dan kebebasan setiap orang di dalam masyarakat ini.” [uh]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG