Tautan-tautan Akses

China Bisa Jadi Investor Terbesar untuk Indonesia Jika Presiden Pangkas Birokrasi


Presiden Joko Widodo bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam KTT Asia Afrika di Jakarta (22/4). (AP/Dita Alangkara)

Presiden Joko Widodo bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam KTT Asia Afrika di Jakarta (22/4). (AP/Dita Alangkara)

BKPM berencana membentuk tim pemasaran khusus yang fokus pada pemberian fasilitas investasi dari China.

China dapat dengan cepat menyalip Singapura dan Jepang sebagai investor asing terbesar untuk Indonesia, jika Presiden Joko Widodo dapat menyederhanakan birokrasi di sektor bisnis.

China membidik investasi bernilai lebih dari US$83 miliar di Indonesia sejak Presiden Jokowi menjabat Oktober lalu, jauh melebihi Jepang dengan $11,6 miliar dan Singapura dengan $185 juta, menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yang tidak menyertakan sektor perbankan serta minyak dan gas dalam datanya.

China, yang tertarik berinvestasi dalam pabrik pemurnian mineral (smelter), pabrik semen dan pembangkit listrik, telah menjanjikan aliran dana besar sebelumnya namun sebagian besar gagal diwujudkan.

Realisasi investasi China di Indonesia dari 2005 sampai 2014 hanya sekitar 7 persen, menurut BKPM. Pemerintahan Presiden Jokowi ingin meningkatkannya menjadi sedikitnya 30 persen.

BKPM berencana membentuk tim pemasaran khusus yang fokus pada pemberian fasilitas investasi dari China. Tim-tim lain juga akan dibentuk untuk negara-negara lain.

"Jika mereka bermasalah dengan izin di daerah, atau berurusan dengan pemerintah pusat, BKPM (akan membantu)," ujar Azhar Lubis, Wakil Kepala BKPM, kepada wartawan.

"Kami akan mencoba berhubungan dengan mereka dan membahas masalah-masalah tesebut."

Sebagian besar investasi potensial China, atau sekitar $78,4 miliar, belum dianggap serius, menurut Kepala BKPM Franky Sibarani. Investasi-investasi potensial dibagi dalam tiga kategori dan saat ini hanya $4,6 miliar yang dianggap dalam kategori "serius" oleh BKPM.

Presiden sangat menginginkan investasi asing untuk mendanai defisit rekening berjalan dan membangkitkan pertumbuhan ekonomi. Namun para pengkritik dan bahkan beberapa penasihatnya sendiri mengatakan ekonomi Indonesia telah mundur ke belakang akibat menteri-menteri yang tidak kompeten dan para birokrat yang serampangan.

"Dengan meningkatnya kontribusi terhadap PDB, investasi langsung diharapkan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi, di samping anggaran pemerintah untuk infrastruktur," ujar Franky.

Investasi total dari China yang terealisasi mencapai $800 juta tahun lalu, naik dari $300 juta tahun sebelumnya. Angka itu jauh di bawah $5,8 miliar dari Singapura dan $2,7 miliar dari Jepang tahun 2014.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG