Tautan-tautan Akses

China Bersiap Pikul Peran Lebih Besar dalam Politik di Timur Tengah


Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Komandan Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nayhan, kiri, berbicara dengan Presiden China with Xi Jinping, tengah, saat acara penandatanganan kesepakatan di Balai Agung Rakyat di Beijing, 14 Desember 2015.

Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Komandan Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nayhan, kiri, berbicara dengan Presiden China with Xi Jinping, tengah, saat acara penandatanganan kesepakatan di Balai Agung Rakyat di Beijing, 14 Desember 2015.

Para analis mengatakan kunjungan resmi pertama Presiden Xi Jinpung ke Timur Tengah minggu depan mengisyaratkan keinginan China untuk menjadi pemain penting dalam urusan Timur Tengah.

Pemerintah China belum mengumumkan secara rinci lawatan Xi ke Timur Tengah. Tapi kantor berita resmi di Iran dan Mesir mengatakan Xi akan melawat ke kawasan itu mulai 20 Januari. Ini akan menjadi yang pertama kalinya dalam 12 tahun presiden China akan mengunjungi ke dua negara itu. Xi juga diperkirakan akan berkunjung ke Arab Saudi.

China telah mengisyratkan minatnya untuk mengatasi masalah-masalah sulit di Timur Tengah. China mengeluarkan dokumen kebijakannya yang pertama mengenai dunia Arab hari Rabu dan menjanjikan dukungan bagi pemerintah-pemerintah Arab dalam perang mereka melawan aksi teror melalui kerja sama jangka panjang, berbagi informasi intelijen dan kerjasama teknis. Bulan Desember China menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Suriah Walid al-Moallem dan juga wakil-wakil oposisi Suriah.

China belum lama ini mengirim Wakil Menlu Zhang Ming ke Arab Saudi dan Iran untuk membantu menurunkan ketegangan akibat eksekusi ulama Shiah yang kontroversial dan serangan terhadap kedutaan Arab Saudi di Teheran.

Langkah-langkah terbaru ini memicu spekulasi bahwa China mungkin mengirim tentaranya ke Suriah untuk berperang bersama tentara Rusia. Para analis mempertanyakan mengapa China ingin terjun ke masalah-masalah diplomatik yang sarat resiko serius.

Li Shaoxian, wakil presiden lembaga kajian Institute of Contemporary International Relations mengatakan, “jika bisa membuat perbaikan keadaan di Timur Tengah, maka akan dianggap sebagai negara penting. China menghadapi sejumlah pembatasan di Timur Tengah, namun sudah siap untuk berperan."

Tapi Li mengatakan “Tidak seperti Rusia, China tidak punya kebutuhan atau aspirasi untuk berperan secara militer. Kita bisa menerima apapun yang sejalan dengan kehendak rakyat setempat di negara lainnya."

China khawatir, peristiwa-peristiwa yang mengganggu di Timur Tengah bisa berdampak pada pemikiran populasi Muslimnya yang besar. Li mengatakan mungkin ribuan warga muslim China telah bermigrasi untuk berperang demi pasukan yang berbeda di Suriah.

Li mengutip tiga alasan lain mengapa China ingin memainkan peranan penting di Timur Tengah. Lebih dari separuh impor energi China datang dari kawasan itu. Merupakan aspek penting bagi program Jalan Sutra, yang mencakup pembangunan proyek-proyek infrastruktur di beberapa negara. Li mengatakan adalah penting untuk berperan dalam Timur Tengah karena akandiperhitungkan dengan serius oleh negara-negara besar. [my/jm]

XS
SM
MD
LG