Tautan-tautan Akses

Beijing Bungkam Soal Unjuk Kekuatan Washington di Korea


Pesawat milik Angkatan Udara AS, U.S. Air Force B-52 terbang melintasi Pangkalan Udara Militer Osan di Pyeongtaek, Korea Selatan (10/1).

Pesawat milik Angkatan Udara AS, U.S. Air Force B-52 terbang melintasi Pangkalan Udara Militer Osan di Pyeongtaek, Korea Selatan (10/1).

Sementara China tidak bersikap jelas dalam menanggapi uji coba nuklir Korea Utara, AS dan Korea Selatan menggunakan opsi-opsi terbatas untuk meningkatkan tindakan pencegahan dan hukuman terhadap pemerintah Kim Jong-un.

Setelah Washington mengerahkan pesawat bomber B-52 yang mampu mengangkut senjata nuklir ke Semenanjung Korea, militer kedua negara mempertimbangkan unjuk kekuatan tambahan dan meningkatkan kehadiran militer gabungan mereka di kawasan tersebut.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan Kim Min-seok hari Senin mengatakan, “Amerika Serikat dan Korea Selatan mengadakan diskusi-diskusi secara terus menerus mengenai pengerahan tambahan aset strategis di Semenanjung Korea.”

Pernyataan itu meningkatkan spekulasi media bahwa Washington mungkin mengirim USS Ronald Reagan, kapal induk bertenaga nuklirnya yang ditempatkan di Jepang, ke perairan Korea dan juga membawa pesawat-pesawat pembom siluman B-2 dan jet-jet tempur siluman F-22.

Pasukan Amerika di Korea Selatan juga dalam keadaan siaga tertinggi pada hari Senin.

Militer Amerika memiliki hampir 30 ribu tentara di Korea Selatan, tetapi juga dapat dengan segera mengerahkan pasukan konvensional dan persenjataan tambahan, termasuk senjata nuklir, dari pangkalan-pangkalan regionalnya di Jepang dan Guam.

Korea Selatan dan Jepang juga menggunakan jalur komunikasi langsung militer bersama mereka untuk pertama kalinya sejak uji coba nuklir Korea Utara. Kedua sekutu militer Amerika itu sebelumnya berupaya mengatasi hubungan bilateral yang tegang terkait tindakan Jepang semasa Perang Dunia II, guna mengatasi dengan lebih baik lagi ancaman nuklir yang kian besar dari Korea Utara terhadap mereka.

Berbeda dengan pendekatannya terhadap Washington dan Tokyo, Kementerian Pertahanan Korea Selatan sejauh ini tidak mampu menghubungi mitranya di Beijing.

“Sekarang ini, Kementerian Pertahanan China tidak berbicara melalui telepon dengan negara manapun. Jadi kami telah mengajukan permohonan untuk menelpon dan sedang menunggu tanggapannya,” kata juru bicara kementerian, Kim Min-seok.

Uji coba nuklir Korea Utara baru-baru ini telah mempertegang hubungannya dengan China, sumber utama bantuan ekonomi dan perdagangannya. Beijing mengritik Pyongyang karena kembali melanggar larangan PBB terkait program nuklirnya, tetapi juga enggan mendukung sanksi-sanksi keras atau tindakan militer yang meningkatkan risiko konflik dan instabilitas di perbatasannya.

Analis Korea Utara Shin In-kyun di Korea Defense Network di Seoul mengatakan, China juga memperdebatkan peningkatan langkah militer Amerika-Korea Selatan di kawasan tersebut.

“Jika China memprotes respons pertahanan diri militer kami, hubungan antara China dan Seoul akan membeku. Jadi menurut saya sukar bagi China untuk menunjukkan respons semacam itu kepada kami," ujarnya.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan hari Senin juga mengambil langkah-langkah untuk semakin membatasi jumlah warganya yang dapat memasuki kompleks industri bersama Kaesong, di mana sekitar 120 perusahaan Korea Selatan mempekerjakan lebih dari 53 ribu pekerja Korea Utara.

“Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan keselamatan warga Korea Selatan karena Korea Utara diperkirakan akan bereaksi terhadap dimulainya kembali siaran propaganda anti-Korea Utara oleh Korea Selatan,” kata juru bicara Kementerian Unifikasi Jeong Joon-hee.

Sebuah asosiasi bisnis yang mewakili perusahaan-perusahaan Korea Selatan di kompleks Kaesong mendesak pemerintah Seoul agar tidak menutup operasi mereka di sana.

Ketegangan perbatasan antar-Korea masih tinggi sementara Korea Selatan terus melakukan siaran dengan pengeras suara di zona demiliterisasi yang mengritik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Tahun lalu kedua pihak saling melepaskan tembakan artileri karena siaran serupa sebelum akhirnya tercapai kesepakatan untuk mengakhiri provokasi lebih lanjut, suatu kesepakatan yang kata Seoul dilanggar Pyongyang dengan uji coba nuklirnya baru-baru ini.

Korea Utara dilaporkan mendirikan pos-pos pengeras suara juga di wilayah perbatasannya untuk membungkam siaran Korea Selatan.

Kantor presiden Korea Selatan hari Senin mengumumkan bahwa Presiden Park Geun-hye akan mengeluarkan pernyataan terbuka hari Rabu dan diperkirakan akan mengumumkan langkah hukuman baru terhadap Korea Utara.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un hari Senin mengemukakan kembali klaimnya bahwa yang diuji coba pekan lalu adalah bom hidrogen berukuran kecil. Klaim ini banyak diabaikan para pakar yang berpendapat bahwa dampaknya terlalu rendah untuk perangkat termonuklir berskala penuh.

Televisi pemerintah Korea Utara KCNA menayangkan sebuah foto pemimpin Korea Utara itu bersama ratusan ilmuwan, pekerja dan pejabat yang terlibat dalam uji coba terbaru. KCNA melaporkan Kim memberi ucapan selamat kepada mereka karena “berhasil dalam uji coba bom hidrogen pertama serta mencatat peristiwa hebat dan bersejarah itu.” [uh/ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG