Tautan-tautan Akses

Banyaknya Kelompok Pro-ISIS Indikasi Meningkatnya Ancaman Teror di Indonesia

  • Fathiyah Wardah

Para pembicara acara Diskusi KNPI di Jakarta, Senin (29/2), dari kanan: Maman Imanul Haq (anggota DPR), Sidney Jones (Direktur IPAC), Muhammad Nurkhoiron (Komisioner Komnas HAM) (VOA/Fathiyah).

Para pembicara acara Diskusi KNPI di Jakarta, Senin (29/2), dari kanan: Maman Imanul Haq (anggota DPR), Sidney Jones (Direktur IPAC), Muhammad Nurkhoiron (Komisioner Komnas HAM) (VOA/Fathiyah).

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengatakan banyaknya kelompok pro-ISIS di Indonesia menunjukkan meningkatnya ancaman teror, yang bahkan lebih berbahaya.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones dalam diskusi di Jakarta hari Senin (29/2) mengatakan ancaman dari kelompok teroris di Indonesia sekarang ini lebih berbahaya dari 10 tahun terakhir. Ini dikarenakan adanya seruan atau keputusan dari pemimpin ISIS Abubakar Al Baghdadi agar semua orang yang berbaiat ke ISIS, wajib berjihad terhadap orang-orang yang menjadi musuh ISIS dimana saja dan dengan cara apa saja yang dapat mereka lakukan.

Meskipun Sidney Jones tidak memastikan berapa jumlah warga negara Indonesia – khususnya anak-anak muda – yang pergi ke Suriah untuk berjihad di wilayah, tetapi menurutnya hal itu tetap harus diwaspadai. Sidney Jones mengatakan jumlah orang yang dipulangkan dari Turki karena ditangkap sebelum bisa menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, kini mencapai 216 orang, 60 di antaranya adalah perempuan dan anak-anak di bawah 15 tahun.

IPAC menilai jumlah kelompok radikal yang mendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia sekarang ini terus bertambah, bukan hanya satu kelompok tetapi beberapa. Antara lain Jamaah Anshorut khilafah Islamiyah yang secara ideologis di pimpin oleh Aman Abdurrahman, yang menurut Sidney menjadi dalang pengeboman di Sarinah, Thamrin pertengahan Januari lalu.

Jamaah Anshorut Khalifah Islamiyah ini merupakan organisasi baru yang terdiri dari unsur-unsur kelompok lama. Kelompok tersebut lanjut Sidney telah tersebar di sejumlah wilayah seperti Jawa Timur, Indramayu, Tegal, Cirebon, Bekasi, Depok, Makasar, Poso, Palu, Lampung dan Bima dan sejumlah beberapa daerah lainnya.

Bukan hanya JAKI saja kelompok yang pro ISIS, beberapa kelompok lain juga terdapat di kota-kota lain di Indonesia. Misalnya Khatibul Iman di Solo yang didirikan oleh seseorang yang baru bebas dari penjara, dan kelompok Santoso di Poso yang secara tegas menyatakan dukungannya kepada Al Baghdadi atau ISIS.

“Walaupun jumlah anggota seluruhnya tidak lebih dari 1.000 orang, tetapi bisa berbahaya kalau mereka sudah mau melakukan pengeboman, melakukan amaliyah. Saya kira bukan mereka saja yang pro ISIS, ada juga beberapa kelompokdi daerah Solo, misalnya ada kelompok baru yang namanya khatibul iman yang didirikan oleh seseorang yang baru bebas dari penjara, ada juga kelompok santoso di daerah Poso,” papar Sidney Jones.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones (foto: dok).

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones (foto: dok).

Sidney Jones juga mengungkapkan setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya warga negara Indonesia tertarik bergabung dengan ISIS. Faktor ekonomi bukan merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang tertarik bergabung dengan ISIS.

“Satu faktor ramalan akhir zaman bahwa perang terakhir akan terjadi di Syam jadi satu faktor adalah banyak orang ingin pergi kesana karena mereka ingin berada di tempat imam Al-Mahdi akan datang. Kedua, mereka melihat muslim di suriah yang notabene suni sedang dibunuh oleh rezim Bashar Al Assad di sana. Sebetulnya ada dorongan kemanusiaan pergi kesana untuk menolong orang-orang disana. Ketiga, Suriah merupakan tempat konflik yang paling dekat untuk berjihad dibanding Afganistan atau tempat lain,” tambahnya.

Sementara, anggota komisi yang membidangi masalah agama DPR RI, Maman Imanul Haq menyatakan kelompok-kelompok moderat seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dan Persis harus bersatu untuk membendung paham radikal.

Ketidaktegasan aparat terhadap kelompok intoleran bisa menjadi bibit munculnya kelompok radikal.

"Aparat harus menggunakan ayat-ayat konstitusi bukan ayat-ayat kitab suci. Tidak perlu takut kepada kelompok-kelompok minoritas radikal kalau kelompok-kelompok mayoritas adalah kelompok moderat," tegas Maman. [fw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG