Tautan-tautan Akses

Badan Pangan PBB Perlu $38 Juta untuk Atasi Kelaparan di Malawi


Warga Malawi antri untuk mendapatkan bantuan pangan dari WFP di desa Mzumazi pinggiran ibukota Lilongwe, awal bulan ini (foto: dok).

Warga Malawi antri untuk mendapatkan bantuan pangan dari WFP di desa Mzumazi pinggiran ibukota Lilongwe, awal bulan ini (foto: dok).

Badan PBB Urusan Pangan (WFP) sedang berupaya memperoleh anggaran sebesar 38 juta dolar untuk membeli pangan bagi hampir tiga juta orang yang sedang menghadapi bencana kelaparan di Malawi.

Permohonan itu disampaikan setelah WFP memperpanjang operasi pemberian bantuan pangan hingga satu bulan lagi. Wartawan VOA Lameck Masina melaporkan dari Blantyre – pusat keuangan di Malawi.

Sejak Oktober 2015 lalu PBB dan mitra-mitranya telah menyediakan bantuan pangan dan dana tunai bagi warga Malawi yang menghadapi bencana kelaparan. Negara itu menghadapi kelangkaan pangan terburuk dalam sepuluh tahun, yang sebagian besar disebabkan oleh banjir dan kekeringan tahun lalu.

WFP mengatakan tanpa bantuan sumbangan, distribusi uang tunai harus ditangguhkan bulan depan, sementara distribusi pangan akan dikurangi secara drastis atau bahkan dihentikan sama sekali pada pertengahan April nanti.

Media-media lokal baru-baru ini melaporkan bahwa sebagian warga Malawi bertahan hidup dari sekam jagung, yang biasanya digunakan untuk pakan ternak.

Seorang warga Blantyre – Amina Khalid – mengatakan kepada VOA, Agriculture Development and Marketing Corporation atau ADMARC selaku penjual gandum utama pemerintah Malawi juga mengalami kelangkaan pasokan.

“Hingga saat ini orang-orang tidur di gudang ADMARC menunggu kesempatan untuk membeli jagung Minggu lalu seorang perempuan di distrik Balaka jatuh pingsan ketika sedang antri membeli jagung. Jadi situasi kelangkaan pangan saat ini benar-benar parah," tutur Amina.

Saat ini ADMARC mengijinkan setiap orang untuk membeli 20 kilogram jagung saja. Amina Khalid mengatakan itu tidak cukup.

“Kita tidak bisa mengatakan kepada satu keluarga yang beranggotakan 10 orang untuk hanya memperoleh 20 kilogram jagung. Ini berarti mereka hanya makan siang saja. Apa yang terjadi pada malam hari? Ini berarti mereka akan kembali ke gudang ADMARC untuk membeli 20 kilogram jagung lagi untuk makan malam,” paparnya.

WFP mengatakan para penjual jagung swasta telah mengambil keuntungan dari situasi kelangkaan pangan ini dengan menaikkan harga hingga 175% lebih tinggi, sehingga semakin menyulitkan banyak orang untuk membeli makanan.

Pemimpin kelompok oposisi di parlemen Lazarus Chakwera hari Senin (22/2) meminta majelis nasional untuk mengheningkan cipta selama satu menit untuk menghormati orang yang meninggal karena kelaparan.

Aktivis hak-hak pangan Tamana Nkhono mengatakan situasi kelangkaan pangan itu bisa dikurangi.

“Pada bulan Juni 2015, ada pengumuman bahwa akan terjadi El Nino. Kita semua tahu dampak El Nino adalah banjir atau kekeringan.Setelah diberitahu, kita seharusnya menyiapkan paket makanan untuk menghadapi El Nino, tetapi paket itu tidak pernah ada. Sebaliknya, investasi yang ditanamkan justru lewat pertanian curah hujan, padahal kita tahu hujan akan menjadi masalah saat El Nino,” ujar Tamana.

Namun, pihak berwenang Malawi menyangkal keras adanya kelangkaan pangan. Menteri Pertanian Allan Chiyembekeza pekan lalu mengatakan pemerintah Malawi telah memperoleh 50 ribu ton jagung yang cukup untuk memberi makan seluruh warga Malawi hingga musim panen berikutnya. Ia menambahkan bahwa laporan kelangkaan pangan itu tidak berdasar. [em/ii]

XS
SM
MD
LG