Tautan-tautan Akses

Ancaman Baru Disentri Muncul

  • Joe de Capua

Bakteri Shigella Sonsei penyebab disentri. (Foto: Dave Goulding)

Bakteri Shigella Sonsei penyebab disentri. (Foto: Dave Goulding)

Air bersih dan sanitasi diketahui dapat menurunkan kasus disentri secara tajam di negara-negara berkembang. Tapi ternyata hal itu tidak cukup untuk menghentikan penyebaran penyakit di negara-negara yang mengalami pertumbuhan dan industrialisasi yang pesat.

Disentri, penyakit semacam diare, terutama dikaitkan dengan negara berkembang di mana satu juta orang meninggal karenanya setiap tahun. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak. Bakteri yang menyebabkan jenis disentri ini dikenal sebagai Shigella flexneri. Karena banyak negara meningkatkan sanitasi dan menyediakan air minum bersih, bakteri tersebut menginfeksi lebih sedikit orang.

“Gejala umumnya adalah buang-buang air besar dengan bentuk kotoran yang cair. Bedanya dari penyakit buang air biasa adalah ada bercak-bercak darah di kotoran,” ujar profesor Nicholas Thompson dari Wellcome Trust Sanger Institute di Inggris yang juga adalah penulis utama dari penelitian disentri baru.

Tingkat keparahan disentri bisa beragam.

“Jika kita memiliki gizi baik dan relative sehat, maka penyakit ini berupa infeksi sangat akut. Namun secara umum, karena kita memiliki akses terhadap air bersih dan obat-obatan, kita sembuh secara sempurna. Masalahnya ada di negara-negara dimana, terutama anak-anak balita, tidak memiliki gizi cukup dan akses terhadap air bersih kurang. Di tempat-tempat ini biasanya banyak implikasi yang parah,” ujar Thompson.

Thompson mengatakan bahwa air bersih dan sanitasi merupakan cara paling efektif untuk menangkal semua penyakit diare. Namun ada bakteri lain penyebab disentri, Shigella sonnei, yang menyebar meski ada perbaikan dalam penyediaan air bersih dan sanitasi.

“Pada negara-negara industry atau industrialisasi, di mana ada perbaikan dalam sanitasi dan air, penyebaran Shigella flexneri berkurang. Itu adalah salah satu penyebab disentri. Namun ternyata ada peningkatan jumlah bakteri Shigella sonnei, spesies yang sedang kita pelajari. Kami kira, dan beberapa orang lain kira, bakteri ini terkait dengan peningkatan dalam kualitas air,” ujarnya.

Penyebabnya adalah karena proses pembersihan air minum ternyata menyingkirkan bakteri tak berbahaya bernama Plesiomonas Shigelloides. Bagi sistem imunitas, lapisan luar bakteri tersebut identik dengan Shigella sonnei, dan antibodi pun diciptakan untuk melawannya. Jadi kehadiran Plesiomonas membantu menciptakan imunitas alami melawan bakteri disentri. Tanpa itu, negara-negara dengan tingkat kesehatan yang buruk menghadapi penyebaran tipe bakteri yang lebih ganas.

“Untungnya ada antibiotik alternatif, dan kombinasi antibiotik tertentu dapat digunakan untuk melawan Shigella sonnei. Yang ingin kami katakana dan kami tunjukkan di sini adalah bahwa ada kecenderungan peningkatan bakteri ini yang membuat gen resisten terhadap obat-obatan yang digunakan dalam terapi. Jika kecenderungan ini berlanjut, aka nada waktu di mana tidak ada antibiotik yang tersedia yang dapat bekerja melawan bakteri ini,” ujar Thompson.

Ia menambahkan bahwa vaksin akan dibutuhkan pada akhirnya dan riset mengenai itu sedang dilakukan. Ia mengatakan bahwa fakta bahwa bakteri memiliki lapisan luar yang stabil dapat membantu ilmuwan mengembangkan vaksin lebih cepat.

Shigella sonnei diyakini pertama kali muncul di Eropa sekitar 500 tahun lalu. Kontaminasi sering terjadi jika tidak mencuci tangan dan lewat air yang tercemar.
XS
SM
MD
LG