Tautan-tautan Akses

Peneliti AS Temukan Penyebab Dementia pada Pengidap HIV


Menurut Alessia Bachis, peneliti ilmu saraf di Rumah Sakit Universitas Georgetown yang mempelajari virus AIDS, otak pengidap HIV-positif membuktikan neuron rusak, biasanya tanda penuaan, lebih cepat dibandingkan otak orang yang tidak sakit (foto: Dok.)..

Menurut Alessia Bachis, peneliti ilmu saraf di Rumah Sakit Universitas Georgetown yang mempelajari virus AIDS, otak pengidap HIV-positif membuktikan neuron rusak, biasanya tanda penuaan, lebih cepat dibandingkan otak orang yang tidak sakit (foto: Dok.)..

Peneliti AS menemukan penyebab demensia dan gejala-gejala seperti depresi yang menimpa lebih dari 50 persen pengidap HIV.

Segera setelah orang tertular HIV, virus penyebab AIDS, virus itu bergerak melalui aliran darah ke otak. Penelitian telah mendapati bahwa otak bertindak sebagai waduk bagi virus itu, yang mulai mengganggu protein yang penting bagi kesehatan sel-sel otak, atau neuron. Ini menyebabkan kerusakan progresif neuron, dan akhirnya, hilangnya fungsi otak dan demensia.

Alessia Bachis, peneliti ilmu saraf di Rumah Sakit Universitas Georgetown yang mempelajari virus AIDS, mengatakan, "Dalam darah orang yang minum obat anti-retroviral, virus itu tidak terdeteksi, tetapi masih ada dalam otak dan masih mampu merusak sel-sel otak mereka. Virus itu sendiri yang membunuh neuron-neuron itu, bukan akibat lainnya."

Hasil penelitian timnya mendapati, otak pengidap HIV-positif membuktikan neuron rusak, biasanya tanda penuaan, lebih cepat dibandingkan otak orang yang tidak sakit.

Guy Eakin adalah wakil pimpinan Urusan Ilmiah pada Yayasan Bantuan Kesehatan Amerika. Organisasi itu diperuntukkan bagi penemuan obat penyakit degeneratif terkait usia. Ia mengatakan, "HIV menyebabkan sumbatan itu dan menyebabkan protein bentuk buruk menumpuk dalam tubuh dan tidak diubah menjadi bentuk baik. Akibatnya, jumlah protein bentuk baik kurang, sedangkan bentuk buruk lebih banyak dan itu beracun bagi sel-sel otak."

Alessia Bachis menegaskan pendapat Eakin.
"Itu sangat melemahkan. Pada dasarnya sama seperti kita menyatukan Parkinson dan Alzheimer, itu yang kita hadapi. Jadi pada akhir pengobatan demensia, pasien dalam kondisi koma," tegas Bachis.

Ketika diobati dengan anti-retroviral, hanya sekitar dua sampai tiga persen pasien HIV-positif menunjukkan bentuk demensia paling parah. Tetapi, kalau tidak diobati, sebanyak 30 persen menunjukkan gejala-gejala itu.

Menurut Bachis, penelitian Georgetown itu sangat penting dalam mendapat pengobatan.

"Secara teori, orang bisa mengembangkan molekul kecil yang bisa digunakan sebagai agen terapi yang dapat diberikan sebagai pil, misalnya, kepada pasien yang sudah mendapat rejimen HIV," paparnya.

Eakin setuju dan mengatakan, "Dari sisi murni bisnis, jika perusahaan obat bisa mendapat dua penyakit untuk harga satu obat maka itu langkah maju yang sangat penting bagi perusahaan obat."

Para pakar mengatakan dengan lebih banyak pasien HIV-positif hidup hingga usia lanjut, penelitian itu menawarkan harapan untuk mengobati bentuk unik demensia yang mereka alami.
XS
SM
MD
LG