Warga Tionghoa Luncurkan Kampung Keberagaman Pertama di Aceh

  • Budi Nahaba

Vihara Dharma Bakti Peunayong Kawasan Kampung Keberagaman Banda Aceh (VOA/Budi Nahaba)

Pekan ini komunitas warga Tionghoa yang bermukim di kawasan Peunayong, kota Banda Aceh mendeklarasikan kawasan tersebut sebagai kampung “keberagaman” pertama di provinsi itu.

Pemuka Tionghoa setempat mengatakan, ide mereka mendapat dukungan pemerintah dan diharap menjadi model bagi wilayah lain agar menerapkan prinsip-prinsip kerukunan dan toleransi antar etnis dan agama demi mewujudkan pembangunan dan perdamaian di provinsi Aceh.

Ketua Perhimpunan Komunitas Tionghoa Aceh (Yayasan Hakka) Kho Khie Siong (Aki) mengatakan Minggu (22/2), deklarasi Kampung Keberagaman Peunayong bertepatan dengan perayaan Imlek 2566 Kamis (19/2) lalu di Banda Aceh.

“Mewujudkan Kampung Keberagaman ini salah satu dari Hakka menjaga kestabilan toleransi ini. Imlek kemarin dipusatkan di dua vihara, Satyamuni dan Dharma Bhakti. Anggota Hakka juga merupakan warga Tionghoa muslim (mualaf),” kata Kho Khie.

Vihara Dharma Bakti Peunayong Kawasan Kampung Keberagaman Banda Aceh

Menurut Kho Khie Siong, perlu ada upaya bersama dalam mewujudkan kerukunan antar umat dan relasi sosial warga dalam mengisi pembangunan dan memelihara perdamaian melalui kegiatan kebudayaan di Aceh.

Hadir dalam kegiatan deklarasi sejumlah pejabat pemerintah lokal dan delegasi pusat, termasuk rombongan pemuda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta.

Salah seorang Koordinator Pemuda dari PBNU Marini M Daod memuji inisiasi kegiatan warga menjadikan Gampong Peunanyong sebagai Kampung Keberagaman, sekaligus sebagai pusat kebudayaan dan perekonomian Banda Aceh.

“Ini menyatukan warga yang berbeda keyakinan agama, etnis dan kultur juga. Ini wujud mensejahterakan masyarakat, khusnya warga Banda Aceh, menjadi masyarakat Aceh madani dan modern,” katanya.

Partisipasi warga kota cukup nyata dalam mewujudkan kampung keberagaman pertama di wilayah Aceh.

Praktisi wisata regional ASEAN Annas Zulham memuji inisiasi warga dan komunitas Tionghoa Banda Aceh. Inisiasi ini, tambah Annas, dapat dijadikan salah satu bentuk diplomasi budaya Aceh-Tiongkok yang diharapkan berdampak kepada sektor lain, baik pendidikan, ekonomi maupun wisata di masa depan.

“Ini bisa jadi provinsi percontohan. Kita perlu membuka wawasan, bahwa di Aceh Timur ada Kelenteng (vihara) tertua di Asia Tenggara, saat imlek banyak dikunjungi warga Tionghoa,” kata Annas.

Secara umum perayaan Imlek 2566 di seluruh Aceh berlangsung meriah, interaksi sosial antar warga di beberapa kota berjalan cukup baik.

Pemuda Peunayong Munawardi Ismail mengatakan, beberapa pertunjukan dan festival digelar dalam rangka imlek, beberapa klab Barongsai lokal Aceh, ikut memeriahkan perayaan Imlek tahun ini.

“Kegiatan ini perlu diperkenalkan ke siswa pelajar, kalau mereka ke museum Aceh mereka menemukan lonceng cakradonya, yang erat kaitannya dengan relasi sejarah Peunayong (Aceh) dengan kedatangan armada Cheng Ho dahulu,” tambah Munawardi.

Munawardi Ismail mengatakan, Kampung Keberagaman Banda Aceh dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi publik lokal dan dunia, bahwa sejarah toleransi dan kerukunan antar warga multiaspek telah ada di Aceh sejak ratusan tahun silam.

Di kawasan pecinan Peunayong Banda Aceh, perayaan Imlek berlangsung hingga Minggu (22/2) , diisi dengan beragam kegiatan, karnaval dan festival seni budaya, terutama pertunjukan Barongsai, festival lampion, bazaar kuliner khas warga Tionghoa.

Sementara delegasi Aceh menghadiri undangan Kementerian Pariwisata dan Menteri Koordinator Kemaritiman dalam rangkameresmikan destinasi wisata baru Jalur Samudra Cheng Ho: Pelayaran Nusantara yang terdapat 10 daerah di Indonesia yaitu Batam, Aceh, Palembang, Bangka Belitong, DKI Jakarta, Semarang, Cirebon, Surabaya, dan Bali.

Pejabat Pariwisata Banda Aceh Fadhil Ahmad Jailani menghadiri peluncuran tersebut di Batam Kepulauan Riau Sabtu (21/2).

“Saya sedang berada di Batam sedang mengikuti launching Jejak Cheng Ho, dan jejak pelayaran Cheng Ho salah satunya di Aceh,” katanya.

Fadhil menambahkan, peresmian pelayaran kapal Laksamana Muslim Jalur Samudra Cheng Ho, diharap mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, terutama wisman dari China.

“Dalam peluncuran kita bahas berbagai potensi yang bisa dikembangkan, karena salah satu kunjungan turis terbesar saat ini China. Sehingga dapat dikaitkan dengan jalur pelayaran Cheng Ho ke Nusantara, termasuk potensi yang dapat dikembangkan di Aceh," kata Fadhil.

Beberapa pakar sejarah kemaritiman mengatakan, Laksamana Cheng Ho pernah mampir dengan membawa 30.000 anak buah kapal sekaligus untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara. Cheng Ho adalah seorang Laksamana Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok yang berkuasa tahun 1403-1424.

Pihak Kementerian Pariwisata baru-baru ini menyatakan akan menargetkan kunjungan wisatawan manca negara 12 juta wisman tahun 2015 ini.