Video Interaktif Bisa Bantu Tentara Atasi Stres

  • Deborah Block

Video 'The War Inside' ditonton oleh puluhan ribu tentara, untuk membantu mereka menghadapi post-traumatic stress sekembalinya dari medan tempur (foto: dok).

Video-video interaktif yang khusus dibuat untuk tentara bisa sangat membantu mereka mengatasi stres setelah pulang dari pertempuran dan kembali ke kehidupan normal.

Tentara di mana saja yang bertempur di medan perang kerap menghadapi masalah ketika pulang dari pertempuran, termasuk masalah kembali ke kehidupan normal. Mereka mungkin sulit beradaptasi lagi dan mengalami kecemasan parah yang disebut post-traumatic stress yang membangkitkan kecenderungan ingin bunuh diri. Konseling psikologis mungkin bisa membantu. Namun, video-video interaktif yang khusus dibuat untuk membantu tentara mengatasi stres juga bisa sangat membantu.

Tentara veteran Robert Menendez ingat benar seperti apa kondisi perang dalam video yang sedang ditontonnya. Simulasi video itu membangkitkan kembali kenangan pada pertempuran di Irak dan Afghanistan. Ia mengatakan, “Saya selalu bermimpi tentang hal-hal tertentu yang terjadi selama saya di pertempuran, khususnya pengalaman terakhir ketika ada rekan-rekan yang gugur.”

Seperti aktor dalam video yang ditontonnya, Menendez kerap merasa cemas dan marah. Ia merasa terkucil dari keluarga dan teman-temannya. “Saya hanya merasa nyaman bicara dengan orang yang punya pengalaman serupa dan mungkin merasakan apa yang saya rasakan,” katanya lagi.

Jadi, seorang rekannya di militer menyarankan agar ia mengunduh video interaktif gratis yang disebut The War Inside. Video itu menayangkan berbagai kondisi mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi setelah kembali dari pertempuran. Menendez mengenali seorang tentara yang mengalami post-traumatic stress yang berusaha memahami dan memulihkan kendali perilakunya. “Mengakui masalah yang kita hadapi, sangat membantu mengatasi masalah itu,” tambahnya.

Video The War Inside diproduksi perusahaan WILL Interactive. Sharon Sloane, pendiri perusahaan itu, mengatakan skenario di dalam video itu didasarkan pada kisah nyata. “Menurut saya, sangat penting memberikan seseorang sesuatu yang bisa digunakan secara pribadi di rumah, yaitu ketika mereka benar-benar merasa seperti mengalaminya lagi. Video ini memberikan orang kesempatan untuk mencoba pilihan-pilihan apa yang ingin mereka lakukan untuk mengatasi masalahnya,” paparnya.

Pilihan-pilihan itu berbentuk pertanyaan yang muncul di layar ketika tayangan berlangsung dan pengguna bisa berpkir bagaimana harus menanggapinya. Menendez mengatakan, jawabannya akan berbeda, tergantung pada jawaban yang dipilih. “Video itu akan memberi tahu kita apa yang akan terjadi apabila kita melakukan sesuatu yang berbeda. Saya mencoba semua reaksi individu dan sebagian jawaban lebih baik dari lainnya,” ujarnya.

The War Inside ditonton oleh puluhan ribu tentara, baik sendiri-sendiri maupun secara berkelompok. Video itu merupakan piranti yang manjur, kata psikiater Elspeth Cameron Ritchie, kolonel purnawiran. “Kadang-kadang video itu menghidupkan pengalaman masa perang. Benar-benar nyata. Video itu membawa mereka kembali ke Irak, dan membuat mereka merasa mengalaminya lagi,” paparnya.

Walaupun Menendez masih kesulitan menghadapi post-traumatic stress, ia mengatakan video itu membantunya membuka diri kepada keluarga dan teman-temannya, dan bisa mengendalikan amarah. “Jika seseorang mengundang saya ke suatu tempat, tetapi saya tidak ingin pergi, dan mereka tetap mengajak saya, saya tegaskan saya tidak mau pergi. Daripada membanting pintu di depan mereka, lebih baik saya mengatakan ‘maaf saya tidak mau pergi,” tuturnya.

Walaupun tidak ada video yang bisa menghapus trauma perang, The War Inside membantu mengurangi stres yang menyertainya.