Standar Pengobatan Kanker Hati Harus Disesuaikan

  • Jessica Berman

Obat kemoterapi sedang disiapkan untuk seorang penderita kanker hati di National Institutes of Health di Bethesda, Md., 24 Maret 2009. (Foto: ilustrasi)

Para pakar menyerukan diterapkannya standar yang lebih disesuaikan di negara-negara berkembang untuk mendiagnosa dan mengobati penyakit kanker hati. Penyakit itu kini merupakan bentuk kanker paling mematikan kedua di seluruh dunia.

Kanker hati menyebabkan sekitar 750.000 kematian setiap tahun. Tapi para pakar mengatakan kanker pankreas menyebabkan lebih banyak kematian.

Di negara-negara Barat, kanker hati biasanya menyerang laki-laki berusia 60 tahun ke atas, yang minum alkohol dan merokok.

Tetapi profil pasien agak berbeda di negara-negara berkembang, termasuk di sub-Sahara Afrika, Amerika Latin dan China. Di sana, kanker hati juga menjangkiti anak-anak muda. Pascal Pineau, pakar genetika kanker pada Insititut Pasteur di Paris, mengatakan lebih dari 86 persen kematian karena kanker hati terjadi di negara berkembang, tetapi standar untuk mendiagnosa dan mengobati penyakit itu menggunakan standar bagi pasien-pasien yang lebih tua di negara Barat. Standar itu membantu para dokter menentukan pengobatan yang terbaik.

Pineau adalah bagian dari sejumlah periset Perancis dan Peru yang melakukan studi di negara Amerika Latin itu yang melibatkan 250 pasien kanker hati yang telah menjalani pembedahan.

Usia rata-rata mereka adalah 36 tahun, dan hanya sedikit yang mengidap sirosis, atau pengerasan jaringan hati, yang umum diderita para pasien kanker hati di dunia Barat.

Berdasarkan standar pengobatan Barat, Pineau mengatakan para pasien itu mungkin dianggap tidak dapat disembuhkan, meskipun usia mereka masih muda dan tidak mengidap sirosis. Mereka mungkin juga tidak akan mendapat pengobatan yang bisa memperpanjang hidup, termasuk pembedahan, untuk mengobati penyakit yang mematikan itu.

Pineau mengatakan sebagian besar pasien di negara-negara berkembang menderita jenis kanker hati yang paling umum (hepatocellular carcinoma) setelah mengidap hepatitis B untuk waktu yang cukup lama.

“Orang-orang yang tinggal di sub-Sahara Afrika dan terinfeksi virus hepatitis B, makan makanan yang terkontaminasi racun dari jamur mikroskopik, dan kemudian mereka terkena kanker hati,” kata Pineau.

Pineau mengatakan banyak kanker hati di seluruh dunia bisa dihindari dengan vaksinasi hepatitis B, tetapi ada kendalanya.

Vaksin itu, yang didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), adalah bagian dari empat suntikan yang kata Pineau tidak mudah didapat oleh banyak orang yang tinggal di wilayah terpencil.

“Dalam banyak hal tidak ada vaksinasi sehingga proses imunisasi tidak terjadi,” tambah Pineau.

Selain menambah jumlah orang yang diberi vaksin hepatitis B, Pineau dan rekan-rekannya menyerukan diubahnya panduan pengobatan untuk membantu para pasien kanker hati yang kini mungkin dianggap tidak dapat disembuhkan. Temuan itu ditulis dalam jurnal Heliyon. [vm/ii]