Skandal Rusak Citra Partai Islam di Indonesia

Mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfi Hasan Ishaaq berbicara dengan wartawan setelah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Foto: Dok)

Kontroversi ini juga berisiko membuat semua partai Islam terimbas, padahal mereka sendiri sudah kesulitan mendapatkan suara, menurut para analis.
Skandal seks, pencucian uang dan suap besar untuk impor daging sapi telah menghancurkan citra partai Islam terbesar di Indoensia dan dapat merusak partai-partai Muslim pada pemilihan umum tahun depan.

“Skandal telah memberikan partai-partai Islam citra yang buruk,” ujar Umar S. Bakry dari Lembaga Survei Nasional.

Kontroversi memuncak minggu lalu ketika pengadilan tindak pidana korupsi menghukum mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq, 16 tahun penjara karena penyuapan dan pencucian uang terkait impor daging sapi.

Selama penyelidikan, terbuka juga skandal-skandal seks dan pernikahan dengan gadis di bawah umur yang melibatkan Luthfi dan teman dekatnya Ahmad Fathanah, yang dipenjara untuk 14 tahun pada November.

PKS sendiri mengecilkan skandal tersebut dan bersikeras masih berada di jalur yang benar untuk mendapat hasil kuat pada pemilihan legislatif April mendatang.

Namun jajak-jajak pendapat pada beberapa bulan terakhir menunjukkan partai tersebut mendapat suara jauh lebih kecil dibandingkan hampir 8 persen yang didapatnya pada pemilihan-pemilihan 2009, dan ada kemarahan publik terhadap partai ini.

Kontroversi ini juga berisiko membuat semua partai Islam terimbas, padahal mereka sendiri sudah kesulitan mendapatkan suara, menurut para analis.

Lima partai Islam utama, termasuk PKS, mendapat suara gabungan lebih dari 25 persen pada pemilihan legislatif 2009. Meski partai-partai mengira suara mereka terus berkurang pada tahun-tahun terakhir, skandal PKS dapat berarti penurunan itu lebih tajam dan cepat, ujar Umar dari Lembaga Survei Nasional.

Ia mengutip hasil survei LSN baru-baru ini dimana 42,8 persen responden mengatakan popularitas kelompok-kelompok Islam akan jatuh dan hanya 21,6 persen yang memperkirakan mereka akan mendapat lebih banyak suara.

Para ahli mengatakan sebab-sebab penurunan itu ada pada pengorganisasian yang buruk, konflik internal dan skandal-skandal korupsi, serta pemikiran bahkan di kalangan Muslim konservatif bahwa tidak ada lagi kewajiban untuk memberi suara pada sebuah partai yang menggambarkan dirinya “Islamis.”

"Bertahun-tahun lalu, jika Anda seorang Muslim yang taat maka Anda akan memilih partai Islam, tapi sekarang tidak lagi,” ujar Greg Fealy, seorang ahli Indonesia di Australian National University.

Sebagian besar pemilih, tambahnya, sekarang memberikan suaranya pada partai-partai dengan rekam jejak yang solid untuk mengatur negara. (AFP)