Satgas Tinombala Optimis Tuntaskan Kelompok Santoso

  • Yoanes Litha

Pasukan TNI yang dikerahkan dalam Operasi Tinombala 2016 untuk memburu kelompok Teroris Santoso (VOA/Yoanes).

Satuan Tugas Operasi Tinombala 2016 menyatakan tetap optimis bisa menuntaskan keberadaan kelompok teroris Santoso di Poso, Sulawesi Tengah.

Satuan Tugas Operasi Tinombala 2016 di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah menegaskan tetap optimis bahwa operasi itu dapat menuntaskan keberadaan kelompok teroris Santoso. Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Rudi Sufahriadi selaku penanggung jawab Operasi Tinombala 2016 kepada VOA di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu (11/4) mengatakan hanya soal waktu bagi operasi itu untuk menangkap kelompok Santoso, yang kabarnya tinggal 29 orang.

“Polisi sangat yakin bisa menangkap, bukan Polisi saja, TNI di sana juga ada, satuan tugas Operasi Tinombala sangat yakin bisa menangkap Santoso, hanya masalah waktu, karena medannya yang sulit, jumlah pasukan juga terbatas, kita lagi atur strategi bagaimana bisa menangkap Santoso,” kata Rudi Sufahriadi.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Rudi Sufahriadi, yang juga sebagai penanggung jawab Operasi Tinombala 2016 (VOA/Yoanes).

Brigadir Jenderal Polisi Rudi Sufahriadi menambahkan berdasarkan perkembangan dilapangan saat ini, ada lokasi-lokasi tertentu yang akan menjadi perhatian khusus dalam operasi tersebut. Oleh karena itu pihaknya kini sedang mengubah penempatan pasukan dan strategi. Namun demi alasan kerahasiaan operasi itu, Sufahriadi tidak merinci lebih jauh perubahan tersebut.

"Sampai hari ini kita sedang tetap mengejar Santoso, karena ada beberapa tempat, spot spot yang harus kita rubah strateginya, saya kemarin dari sana, kita sudah geser pasukan, kita lakukan pergeseran pergeseran semoga ke depan lebih bagus,” tambah Rudi.

Sejak Operasi Tinombala 2016 digelar pada 10 Januari silam, operasi itu telah menewaskan 10 orang dan menangkap dua orang lainnya dari kelompok teroris itu. Namun beratnya kondisi medan hutan pegunungan yang menjadi basis persembunyian dan pergerakan kelompok itu, menghambat pergerakan pasukan TNI/Polri untuk memburu kelompok Santoso.

Secara terpisah, Adriani Badra dari “LSM Celebes Institute” yang melakukan kajian dan penelitian konflik di Sulawesi Tengah menilai pemerintah dan otorita berwenang lainnya perlu mengevaluasi pelaksanaan Operasi Tinombala 2016 di Kabupaten Poso. Dengan dukungan anggaran yang besar dan perkuatan pasukan yang mencapai tiga ribu personel yang berasal dari satuan elit TNI-Polri, menurut Adriani tidak rasional bila Operasi Tinombala 2016 tidak juga mampu menuntaskan keberadaan kelompok Santoso.

Personel TNI/Polri yang dikerahkan ke desa Tamadue, Lore Timur, Kabupaten Poso (VOA/Yoanes).

Kondisi hutan pegunungan yang menjadi basis pergerakan kelompok itu seharusnya tidak menjadi alasan dari berlarut-larutnya perburuan Santoso dan kelompoknya yang sesungguhnya telah diburu aparat keamanan dalam serangkaian operasi sejak tahun 2013.

"Tentunya juga harus ada pertemuan atau duduk bersama multi stakeholder yang terkait dengan penanganan Poso ini, baik yang pelaksana teknis operasi maupun yang punya kebijakan dalam hal ini Pemerintah, ayo coba dievalusi apa yang salah dari operasi ini, jangan disalahkan masalah wilayah operasi yang sulit, dan kami harus menambah waktu, dan kami harus mengerahkan personel lebih banyak lagi dan bla bla bla seperti itu. Itu persoalan teknis yang memang akan ditemui dilapangan ketika operasi itu dilakukan, tetapi strategi dari operasi ini apa?,” ujar Adriani.

Celebes Intitute menilai selain melakukan evaluasi terhadap Operasi Tinombala 2016, pemerintah pusat juga perlu menetapkan tenggat dan target yang jelas terhadap capaian pelaksanaan operasi tersebut. Masih berkeliarannya kelompok Santoso menimbulkan rasa tidak aman pada warga masyarakat, baik untuk sekedar melakukan aktifitas sehari-hari di sawah dan kebun maupun aktivitas lain. [yl/em]