Saksi Mata Beri Keterangan Berbeda Soal Serangan Konvoi Bantuan di Suriah

Truk bantuan darurat yang hancur pasca serangan di kota Urm al-Kubra, sebelah barat kota Aleppo, Suriah, 20 September 2016 (REUTERS/Ammar Abdullah)

Para pejabat Rusia dan Suriah, Rabu (21/9), terus membantah keterlibatan mereka dalam serangan terhadap konvoi bantuan kemanusiaan dekat Aleppo sebelumnya pekan ini yang memaksa penundaan pengiriman bantuan PBB ke Suriah.

Para penyintas dan petugas bantuan darurat bersikeras mengatakan, konvoi 31 truk itu dihantam 20 misil dan serangan selama dua jam itu berasal dari pesawat tempur atau helikopter.

Keterangan saksi mata yang diperoleh media termasuk dari saudara seorang pejabat organisasi Bulan Sabit Merah Arab Suriah, yang memantau konvoi itu. Ali Barakat, yang juga pekerja bantuan, mengatakan, ia langsung tiarap ketika serangan misil pertama menewaskan saudaranya Omar Barakat, ayah sembilan anak.

Hanya beberapa jam sebelumnya, Omar menyelesaikan berbagai dokumen yang rumit dan perundingan yang alot dengan kelompok pemberontak danpemerintah untuk memungkinkan konvoi tersebut bergerak dari distrik yang dikontrol pemerintah di bagian barat Aleppo ke kawasan pinggiran yang dikuasai pemberontak.

Ali Barakat mengatakan kepada kantor-kantor berita, lebih dari 20 misil menghantam kovoi tersebut Senin malam di kota kecilUram al-Kubra. Komisi Palang Merah Internasional mengatakan 20 warga sipil tewas dalam serangan yang menurut para pejabat Rusia dilakukan pemberontak dan bukan oleh pasukan mereka atau pasukan pemerintah Suriah.

Sejumlah pejabat pemerintah AS mengatakan di Washington, dua peasawat tempur Rusia, SU-24, terlihat di angkasa, tepatnya di atas konvboi tersebut, pada saat serangan terjadi. Kementerian Luar Negeri Rusia membantah pernyataan tersebut. [ab/as]