Perang Kata Trump-Kim Persulit Denuklirisasi Semenanjung Korea

  • Brian Padden

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un terus terlibat "retorika provokatif". (Foto: ilustrasi).

Retorika provokatif antara Presiden Amerika Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memperkuat rasa pesimis yang sudah meningkat bahwa denuklirisasi Semenanjung Korea mungkin dapat dilakukan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan hari Selasa bahwa penggunaan kekuatan militer akan "menghancurkan Korea Utara," meskipun bukan "pilihan yang dikehendakinya" untuk menghentikan program nuklir dan rudal pemerintahan Kim Jong-un yang maju pesat.

Para pemimpin Amerika dan Korea Utara saling melontarkan tidak hanya ancaman militer, tapi juga penghinaan pribadi. Presiden Trump menyebut pemimpin Korea Utara " little rocket man" dan Kim menyebut presiden Amerika itu "dotard," istilah kata bahasa Inggris yang berarti tua dan pikun.

Dengan menyebut ancaman Trump sebagai pernyataan perang, Korea Utara memperingatkan mungkin akan menembak jatuh pesawat tempur Amerika yang terbang di dekat Semenanjung Korea, setelah beberapa pesawat pembom Amerika terbang didekatnya Sabtu lalu. Menteri Luar Negeri Ri Yong Ho juga menyatakan bahwa Pyongyang akan segera menguji bom hidrogen di Samudera Pasifik, tindakan yang dapat mendorong Amerika melakukan serangan pencegahan secara militer.

Dalam situasi yang sangat berbahaya dan konfrontatif ini, para analis memperingatkan, kekeliruan kecil saja dapat dengan mudah menyebabkan konflik yang menimbulkan bencana.

"Saya pikir kita akan menghadapi tindakan militer serta balasannya dalam beberapa jam ini," kata Robert Gallucci, ketua Lembaga Amerika - Korea di Universitas Johns Hopkins , dalam sebuah acara di Pusat Studi Strategis dan Internasional atau CSIS di Washington pekan ini.

Tanpa mengkritik Presiden Trump secara langsung, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung Wha meminta pendekatan yang tidak konfrontatif terhadap Korea Utara.

"Sangat penting bahwa kita, Korea Selatan dan Amerika, bersama-sama mengelola situasi dengan kecerdasan dan keteguhan untuk mencegah peningkatan ketegangan lebih lanjut atau bentrokan militer yang tidak disengaja, yang dapat dengan cepat menjadi tidak terkendali," kata Kang dalam acara CSIS tentang hubungan Amerika dan Korea.

Peningkatan ketegangan militer mungkin akan membuat lebih sulit untuk mencapai penyelesaian diplomatik yang dapat diterima bersama, tetapi pihak-pihak yang skeptis mengatakan semakin jelas bahwa Korea Utara tidak akan menghentikan program senjata nuklirnya.

Berbeda dengan ayahnya yang pragmatis Kim Jong-Il, yang merundingkan kesepakatan untuk menghentikan program nuklir negara itu dengan imbalan mendapat bantuan ekonomi, Kim Jong Un tidak menunjukkan kesediaan untuk berkompromi, dalam pengembangan senjata nuklirnya, termasuk kemampuan rudal balistik antar benua atau ICBM yang dapat menarget daratan Amerika. Para pemimpin Korea Utara menyatakan, perlu kekuatan pencegah nuklir yang besar untuk menghindari kemungkinan serbuan pimpinan Amerika. [sp/ii]