Terpilih sebagai Presiden, Xi Jinping Hadapi Tantangan Perubahan di China

  • William Ide

Mantan presiden China Hu Jintao, kiri, dan Xi Jinping bertepuk tangan setelah Kongres Nasional Rakyat dalam sidang plenonya memilih Xi sebagai Presiden China mendatang (foto, 14/3/2013)

Kongres Nasional Rakyat China telah memilih Xi Jinping sebagai Presiden China berikutnya, di mana ia akan menghadapi tantangan besar dan seruan akan perubahan politik.
Dalam waktu hanya beberapa jam, perwakilan Kongres Nasional Rakyat China memilih untuk mendukung pemilihan Xi Jinping untuk jabatan presiden. Hanya satu suara yang menolak serta tiga abstain.

Hasil pemungutan suara itu tidak pernah diragukan, dan ada semacam suasana meriah di Balai Agung Rakyat China. Banyak delegasi mengambil foto diri mereka sendiri ketika mereka memberikan suara. Yang lainnya meminta tanda tangan Xi Jinping, serta tanda tangan sosok yang diduga kuat akan menjadi perdana menteri selanjutnya Li Keqiang.

Pemungutan suara terhadap Li akan diselenggarakan hari Jumat dan hasil pemilu itu sudah dapat diperkirakan.

Namun, yang masih belum jelas adalah bagaimana keduanya akan menangani tantangan besar dan seruan akan perubahan di China.

Para pejabat China telah mengambil sikap jelas dalam semua pertemuan Kongres Nasional Rakyat bahwa satu pilihan tidak tersedia - yaitu reformasi politik.

Juru bicara Kongres Nasional Rakyat Fu Ying mengatakan bahwa tidak adil untuk mengatakan bahwa gaya reformasi politik China tidak mereformasi setiap kali negara itu tidak mengikuti jejak negara-negara lain.

Sebuah kepala berita dalam surat kabar berbahasa Inggris milik pemerintah Global Times bahkan lebih blak-blakan. Bunyinya: "Jalur Sosialis Dipastikan Kembali, Penolakan Konstan terhadap model Barat menetapkan nada reformasi."

Namun, China tidak menolak semua gagasan politik Barat. Dalam beberapa pekan terakhir ada sejumlah laporan di berbagai media China tentang minat baru terhadap tulisan-tulisan sejarawan Perancis Alexis de Tocqueville.

Wang Qishan, salah seorang dari tujuh anggota tim inti pemimpin baru Xi telah merekomendasikan buku penulis itu, "Old Regime and Revolution," kepada rekan-rekannya.

Itu memicu pembicaraan tentang apakah China sudah matang untuk revolusi.

Wartawan China Cheng Yizhong mengatakan bahwa alasan Wang Qishan dan Xi tertarik pada karya-karya Tocqueville adalah karena mereka ingin belajar tentang kekuasaan dan bagaimana mempertahankan kekuasaan hegemonik mereka dan menjauhkan ancaman. Namun, warga liberal dan warga negara memiliki pandangan yang berbeda, kata Cheng. Mereka berpikir China harus mengakhiri satu aturan partainya. Mereka yakin bahwa jika hal ini tidak terjadi, China bisa menjalani revolusi lain yang mirip dengan Revolusi Perancis, katanya.

Para pemimpin Partai Komunis China telah memperingatkan bahwa korupsi bisa membunuh partai dan telah berbicara atas kemauan pemerintah untuk mengatasi korupsi. Xi mengatakan bahwa pemerintah tidak akan hanya menarget koruptor kelas “teri" tetapi juga pejabat tinggi atau koruptor kelas "kakap."