Polda Sulteng Upayakan Evakuasi Jenazah Anggota Brimob dari Hutan Poso

  • Yoanes Litha

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hari Suprapto memberikan keterangan di Mapolres Poso, 19 Februari 2016 (Foto: VOA/Yoanes)

Polda Sulawesi Tengah masih upayakan evakuasi jenazah seorang anggota Brimob yang meninggal karena sakit dalam operasi Tinombala 2016 dari hutan pedalaman Lore Timur, Poso.

Pihak Kepolisian di Poso Sulawesi Tengah berupaya mengevakuasi jenazah seorang anggota Brimob yang meninggal dunia saat sedang berpatroli di hutan pegunungan dalam Operasi Tinombala 2016. Operasi ini berupaya mencari dan menangkap kelompok teroris Santoso.

Anggota Brimob berpangkat AKP itu diduga meninggal karena penyakit Malaria yang tiba tiba kambuh. Setidaknya sudah dua anggota Polri yang gugur dalam tugas operasi Tinombala 2016.

Polda Sulawesi Tengah berupaya mengevakuasi jenazah seorang anggota Brimob yang meninggal dunia karena sakit saat sedang berpatroli di dalam hutan pegunungan di sekitar Kecamatan Lore Timur Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dalam operasi Tinombala 2016. Operasi ini bertujuan mencari dan menangkap kelompok teroris Santoso.

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hari Suprapto dalam keterangan di Mapolres Poso pada Jumat 19 Februari 2016 mengatakan anggota Brimob bernama AKP Freddy Manuhutu itu diketahui meninggal dunia pada Kamis 18 Februari setelah sehari sebelumnya dilaporkan sakit dan sempat pingsan. Meninggalnya anggota Brimob itu diduga karena sakit Malaria yang tiba tiba kambuh.

“Apabila dilihat dari laporan awal sampai dengan terakhir, artinya almarhum ini demam kemudian gejalanya mirip Malaria, kemungkinan kambuh sampai dengan almarhum ini tidak sadarkan diri. Jadi untuk yang bersangkutan Almarhum adalah AKP Freddy Manuhutu, ini berasal dari Mabes Polri, jadi Sat Brimob Mabes Polri,” kata AKBP Hari Suprapto (Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah).

AKBP Hari Suprapto menjelaskan upaya evakuasi kini terkendala karena beratnya medan hutan pegunungan untuk tim evakuasi mencapai lokasi yang disebutkan berjarak sekitar tiga hari jalan kaki dari lokasi terakhir yang bisa dijangkau kendaraan roda empat. Lebatnya hutan serta cuaca di pedalaman lembah Napu juga menyebabkan helikopter tidak dapat dikerahkan untuk secara langsung menjemput jenazah anggota Brimob itu.

“Helikopter hanya bisa terbang pada jam-jam tertentu, dan cuaca tertentu, di lokasi kami terima informasi bahwa pada pagi hari kurang lebih sampai jam 9,” imbuhnya.

Menurut rencana evakuasi jenazah Freddy Manuhutu itu akan dilakukan dengan jalan kaki hingga ke lokasi yang memungkinkan didarati oleh Helikopter Polri, untuk selanjutnya diterbangkan ke markas Polda Sulawesi Tengah di Palu. Almarhum diketahui telah memiliki seorang istri yang berada di Ambon, Maluku.

Meninggalnya AKP Freddy Manuhutu ini menambah daftar jumlah anggota Polri yang gugur dalam tugas mencari dan menangkap kelompok teroris Santoso dalam Operasi Tinombala 2016 di Poso Sulawesi Tengah.

Sejauh ini setidaknya sudah dua anggota Polri yang gugur dalam operasi yang dimulai pada tanggal 10 Januari 2016 itu. Di sisi yang lain, sudah tiga orang yang disebut sebagai jaringan kelompok Santoso tewas dalam dua peristiwa kontak tembak dengan personel TNI-Polri, sedangkan seorang lainnya berhasil ditangkap. [yl/lt]