Peringatan Hari AIDS Sedunia: Diskriminasi terhadap ODHIV di Palu Semakin Berkurang

  • Yoanes Litha

ILUSTRASI - Para sukarelawan bersama pekerja seks menyalakan lilin berbentuk pita merah pada malam peringatan 'Hari AIDS Sedunia' di Khalpara, Siliguri, 30 November 2021. (Diptendu DUTTA / AFP)

Dukungan dari masyarakat yang tidak mendiskrimasi Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Palu dapat membantu penyintas penyakit itu untuk tidak ragu menghadapi stigma masyarakat saat mengakses layanan perawatan, dukungan dan pengobatan di layanan kesehatan.

Hari AIDS Sedunia 2022, 1 Desember turut diperingati para penyintas penyakit itu yang berada di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan yang diinisiasi Yayasan Banuata Pura Support itu dipusatkan di salah satu kafe yang berada di kawasan hutan kota. Selain penyintas HIV, kegiatan itu turut dihadiri masyarakat umum dan tenaga kesehatan.

Idham Chaliq salah seorang penyandang Human Immunodeficiency Virus (HIV) mengungkapkan dari tahun ke tahun stigma atau diskriminasi terhadap ODHIV (Orang Dengan HIV) di kota Palu semakin menurun. Hal ini, katanya, membuat ia dan teman-teman sesama penyandang HIV untuk tidak ragu mendatangi layanan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) di pusat layanan kesehatan.

Idham Chaliq penyintas HIV saat memberikan testimoni di atas panggung dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Palu, Kamis (1 Desember 2022) (Foto : VOA/Yoanes Litha)

“Sudah banyak masyarakat atau teman-teman yang bisa menerima teman-teman ODHIV. Sejak terkonfirmasi, saya sendiri sejak tahun 2015 sampai dengan saat ini Alhamdulillah masih sehat,” kata Idham Chaliq saat menceritakan kehidupannya sebagai penderita HIV.

Sejak mengetahui dirinya terinfeksi HIV pada tahun 2015, Idham telah mengakses layanan pengobatan untuk mendapatkan obat antiretroviral (ARV). Mengonsumsi obat itu secara teratur diakuinya bisa membuatnya merasa tetap sehat dan beraktivitas secara normal.

“Petugas kesehatan dari dinas kesehatan, layanan rumah sakit dan puskesmas cukup membantu dan memudahkan teman-teman, jadi teman tidak takut lagi mengonsumsi ARV, kemudian stigma dan diskriminasi itu sudah berkurang untuk di Kota Palu,” Akui Idham dalam Talskhow bertema “Meningkatkan Kesadaran Masyarakat tentang Pentingnya Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS”.

Your browser doesn’t support HTML5

Peringatan Hari AIDS Sedunia Diskriminasi Terhadap ODHIV di Palu Semakin Berkurang

ARV merupakan bagian dari pengobatan HIV dan AIDS untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sehingga tidak terdeteksi.

Edukasi Perlu Terus Dilakukan

Dokter Rossalin T Lago dari layanan PDP Puskesmas Birobuli, Kota Palu, menilai edukasi perlu terus dilakukan kepada masyarakat untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Hal itu utamanya dikarenakan masyarakat masih menganggap penyakit itu sangat mudah menular.

“Kita tahu HIV itu menularnya hanya melalui darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu, di luar itu ya aman. Jadi jauhi virusnya, bukan orangnya,” kata Rossalin.

Dokter Rossalin T Lago dari layanan PDP Puskesmas Birobuli, Kota Palu (baju hitam) dan Dokter Ni Made dari Program Pencegahan AIDS dan Infeksi Menular Seksual, Dinas Kesehatan Kota Palu, Kamis (1 Desember 2022) (Foto : VOA/Yoanes Litha)

151 Kasus Baru HIV di Tahun 2022

Ni Made dari Program Pencegahan AIDS dan Infeksi Menular Seksual, Dinas Kesehatan Kota Palu mengungkapkan kasus HIV di Kota Palu pertama kali terdeteksi pada 2002 dengan tiga orang penderita. Sejak itu jumlah penderita kasus HIV terus bertambah setiap tahunnya menjadi 1.117 pada tahun 2021. “Dan untuk khusus tahun 2022 sampai bulan Oktober sudah 151,” kata Ni Made dalam kegiatan yang tersebut.

Penemuan kasus baru setiap tahunnya itu, menurutnya, karena munculnya kesadaran warga untuk memeriksakan diri. Di Kota Palu sendiri terdapat 14 puskesmas dan delapan rumah sakit yang menyediakan layanan konseling dan tes HIV yang dilakukan secara sukarela. Dari jumlah itu, sebanyak dua puskesmas, dan tiga rumah sakit menyediakan layanan PDP bagi penderita HIV AIDS di Kota Palu. Direncanakan pada tahun 2023, layanan PDP akan ditambah dengan dua puskesmas lainnya.

Dua Belas Ribu Anak Terinfeksi HIV

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan, Dokter Imran Pambudi, menjelaskan tantangan penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia masih cukup besar. Berdasarkan data tahun 2018-2022, katanya, upaya pencegahan penularan HIV, khususnya pada perempuan, anak dan remaja belum optimal. Sebagian besar kasus HIV, sekitar 70 persen, berada di kelompok umur 24 hingga 49 tahun.

“Kalau dilihat dari total itu ada sekitar dua belas ribu lima ratusan anak usia 14 tahun ke bawah yang diketahui status HIV-nya, ini kalau dilihat dari data tahun 2010 sampai September 2022. Nah dari dua belas ribu lima ratusan itu, yang sudah mulai pengobatan itu baru sekitar tujuh ribu delapan ratusan. Jadi gap-nya juga masih cukup tinggi,” kata Imran Pambudi dalam Temu Media Hari AIDS Sedunia 2022, Selasa, (29/11).

Suasana Peringatan Hari AIDS Sedunia di salah satu Cafe di Kota Palu, Kamis (1 Desember 2022) (Foto : VOA/Yoanes Litha)

Setiap tahunnya, kata Imran, masih ditemukan anak dengan HIV, yang menunjukkan bahwa upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak masih memerlukan penguatan.

Tantangan lainnya adalah belum seluruh ODHIV menerima pengobatan. Data Kementerian Kesehatan 2018-September 2022 dari jumlah 417.778 ODHIV baru 168.767 (41 persen) yang berstatus dalam terapi ARV.

“Permasalahan saat ini mungkin lebih banyak pada bagaimana kita bisa melakukan follow up pada orang-orang yang ditemukan positif, tetapi belum masuk ke dalam pada pengobatan. Begitu pula orang-orang yang sudah mengalami pengobatan itu harus dicek juga bagaimana kondisinya apakah virusnya sudah tersupresi,” kata Imran Pambudi.

Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia bertujuan untuk mengakhiri epidemi HIV pada tahun 2030 yang ditandai dengan tercapainya nol kasus kasus baru HIV, kematian dan nol stigma-diskiriminasi. Indikator untuk mengakhiri epidemi HIV adalah 95 persen ODHIV mengetahui status HIV-nya, 95 persen ODHIV diobati dan 95 persen ODHIV yang diobati mengalami supresi virus. [yl/ab]