Perdana Menteri Swedia Hadapi Pilihan Sulit

Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven tiba untuk menghadiri KTT Uni Eropa di gedung Dewan Eropa di Brussels, Jumat, 21 Februari 2020. (Foto: AP)

Perdana Menteri Swedia, Stefan Lofven, yang minggu lalu kalah dalam mosi tidak percaya, Senin (28/6) menghadapi pilihan yang sulit; mengadakan pemilihan cepat atau mengundurkan diri dan memicu pencarian penggantinya.

Pemimpin Sosial Demokrat ini oleh sebagian kalangan dianggap ahli konsensus sementara oleh sebagian yang lainnya dianggap sebagai orang partai yang membosankan dan tidak memiliki visi. Ia sebelumnya punya waktu tujuh hari sejak mendapat mosi tidak percaya untuk berupaya mengamankan mayoritas parlemen yang berpihak kepadanya.

Sekarang, kecuali berhasil membujuk partai-partai lain untuk menciptakan koalisi yang lebih stabil, pilihannya sangat terbatas.

BACA JUGA: Nama Avicii Diabadikan di Arena yang Populer di Swedia

Lofven yang berusia 63 tahun, mantan tukang las dan pemimpin serikat buruh yangbertubuh kekar dan hidung bak seorang petinju, membawa aliran kiri Swedia pada kekuasaan, pada 2014. Ia kemudian bertahan di politik dengan menggerakkan partainya mendekati aliran kanan tengah, tepat setelah 2018 pemilu.

Ia akhirnya berselisih dengan Partai Kiri yang mendukung pemerintahannya dan menjadi pemimpin pemerintah Swedia pertama yang dikalahkan oleh mosi tidak percaya.

Mosi tidak percaya diajukan oleh Partai Demokrat Swedia yang beraliran ekstrem kanan setelah Partai Kiri merencanakan mosi semacam itu sebagai protes atas rencana untuk melonggarkan pengawasan sewa menyewa.

Bagi yang beraliran kiri, proposal "sewa sesuai kehendak pasar", yang berpotensi memungkinkan tuan tanah secara bebas menetapkan sewa apartemen baru, dipandang bertentangan dengan model sosial Swedia dan mengancam hak-hak penyewa.

BACA JUGA: PM Swedia Desak Rakyat Patuhi PSBB 

Partai Moderat yang konservatif dan Partai Demokrat Kristen dengan cepat mendukung mosi tersebut, yang disetujui oleh 181 anggota parlemen dari 349 kursi parlemen.

Upaya terakhir untuk menjangkau Partai Kiri, yang menduduki 27 kursi di parlemen itu gagal.

Para pengecam sebelumnya menggambarkan konstelasi itu sebagai "aliansi yang tidak murni" dari partai-partai yang berlawanan dalam spektrum politik.

Setelah 11 kali mosi tidak percaya yang gagal dalam sejarah politik modern Swedia, Lofven, yang sebelumnya membedakan dirinya dengan kemampuannya bertahan dari krisis politik, akhirnya menciptakan preseden yang tidak diinginkan.

Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven dan Menteri Pendidikan Anna Ekstrom berjalan setelah mosi tidak percaya di parlemen Swedia, di Stockholm, Swedia 21 Juni 2021. (TT News Agency/Nils Petter Nilsson via Reuters)

Pemilu Atau Pengunduran Diri?

Pemilu cepat apapun yang diadakan, sebagai tambahan dari pemilu yang dijadwalkan September 2022, hanya akan menghasilkan dua kartu surat suara dalam waktu setahun lebih.

Jika Lofven memilih mengadakan pemilihan baru, maka itu akan menjadi pemilu cepat pertama di negara itu sejak 1958.

Menurut jajak pendapat Ipsos yang diterbitkan Selasa, sayap kanan dan ekstrem kanan akan unggul dalam pemilihan umum namun kecil kemungkinannya menjadi mayoritas di parlemen.

Jika Lofven memilih untuk mundur maka akan bergantung kepada ketua parlemen Andreas Norlen untuk membuka perundingan guna mencari perdana menteri baru. [my/ab]