Penyakit Sampar Sapi Ternyata Masih Berjangkit di Afrika

Dr. Walter Plowright, kiri, mengembangkan vaksin awal penyakit sampar sapi pada tahun 1960 (foto: Dok).

Meski Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) tahun lalu resmi menyatakan penyakit rinderpest atau sampar sapi telah diberantas, penyakit ini masih berjangkit di Afrika.
Rinderpest atau sampar sapi adalah penyakit hewan pertama yang diberantas secara global, dan penyakit kedua yang diberantas setelah cacar.

Jeffrey Mariner, ilmuwan peneliti di International Livestock Research di Nairobi dan penemu vaksin rinderpest yang stabil dalam temperatur berapapun, mengatakan, “Ini adalah penyakit yang sangat ganas. Hewan mengalami diare sehingga dehidrasi dan mati dalam hitungan sepekan, dan ini dapat menyebabkan kematian hingga 90 persen ternak.

Rinderpest telah ada selama berabad-abad sebelum orang-orang Eropa tidak sengaja membawanya ke Afrika pada tahun 1887. Selama dekade berikutnya, penyakit ini meluas ke sebagian besar benua Afrika, menyebabkan banyak kematian akibat kelaparan di Ethiopia.
Meskipun telah ada beberapa vaksin awal, satu vaksin penting dikembangkan pada tahun 1960 oleh Walter Plowright, yang menerima Penghargaan Pangan Dunia berkat karyanya itu.

Marina mamaparkan lagi, “Ini merupakan vaksin yang fenomenal. Vaksin ini melindungi ternak dari semua jenis rinderpest. Dengan satu kali imunisasi, ternak seumur hidup terlindungi dari penyakit ini. Hingga kini belum pernah ada laporan mengenai reaksi sebaliknya. Ini benar-benar memicu berbagai upaya untuk memberantas rinderpest dan penyakit yang disebut JP15, yang hampir berhasil tetapi terhenti beberapa tahun kemudian.”

Satu-satunya masalah adalah vaksin ini harus didinginkan sebelum digunakan. Mariner dan para sejawatnya mulai meneliti tentang stabilitas suhu vaksin ini pada akhir 1980-an dan mengatasi masalah tersebut pada tahun 1990.

“Kami mendapati bahwa vaksin Plowright sangat baik, satu-satunya kekurangannya adalah perlu didinginkan, dan kami telah membuatnya supaya tidak demikian. Vaksin ini dapat digunakan di lapangan dengan lebih fleksibel, dan ini memungkinkan kita melaksanakan program vaksinasi untuk tempat-tempat seperti Sudan Selatan dan kawasan-kawasan sangat terpencil di Afrika Utara,” papar Matiner lagi.

Tetapi Mariner dan rekan-rekannya menyadari bukan petugas profesional saja yang berperan dalam imunisasi hewan-hewan yang berisiko. Mereka juga berpaling ke komunitas peternak lokal, sementara lembaga-lembaga resmi pemerintah tidak dapat menjangkau wilayah desa terpencil.

Mariner mengatakan keberhasilan upaya memberantas rinderpest membuktikan bahwa masyarakat Afrika sudah cakap untuk melakukan hal tersebut.