Pengungsi Hazara Terabaikan di Indonesia

Seorang pria dari etnis Hazara melihat keluar dari belakang panel kaca di tempat penampungan sementara di Karawang, Jawa Barat. (Foto: Dok)

Diabaikan oleh pemerintah dan ada dalam daftar tunggu pemukiman selama bertahun-tahun, mereka menemukan penghiburan dalam buku dan futsal.

Kehidupan pengungsi memberikan banyak asosiasi: kemiskinan, tekanan, kekurangan. Namun fakta lain yang dihadapi banyak pengungsi adalah hidup sehari-hari yang membosankan.

Misalnya pengungsi Hazara di Jawa Barat, yang hari-harinya memanjang menjadi berbulan-bulan dan kemudian bertahun-tahun. Mereka tidak bisa bekerja, bersekolah, atau bepergian. Mereka diabaikan pemerintah Indonesia, yang tidak mengakui pengungsi, dan mereka menunggu giliran dalam daftar sangat panjang badan PBB untuk pengungsi, UNHCR, untuk dimukimkan di lain negara seperti Jerman atau AS.

Ada sejumlah pengungsi Hazara, yang mayoritas merupakan Muslim Syiah, di Cisarua, Jawa Barat. Ratusan dari mereka datang ke Indonesia lewat pesawat dan kapal dalam lima tahun terakhir, melarikan diri dari penganiayaan di Afghanistan, Pakistan dan Iran.

Indonesia awalnya merupakan tempat transit menuju Australia, namun karena negara itu menghalangi para pencari suaka yang tiba dari laut, Indonesia kemudian menjadi semacam purgatori. Orang-orang Hazara memilih Cisarua karena cuacanya yang lebih dingin dan lebih bisa ditolerir, dan mereka bisa menyewa rumah lebih murah dibandingkan dengan rumah susun sempit di Jakarta.

Setelah menyadari lamanya masa penantian mereka, beberapa pengungsi mendirikan sekolah darurat untuk anak-anak mereka, Pusat Pembelajaran Pengungsi (RLC), tahun 2014. Dimulai sebagai kelas informal, tempat itu telah berkembang menjadi sekolah dengan enam ruangan dan kelas-kelas untuk orang dewasa dan anak-anak, termasuk perpustakaan, kelas Bahasa Inggris, dan liga futsal.

"Kami meminta UNHCR untuk membantu kami dengan semacam program pendidikan tiga bulan, tapi setelah tidak ada tanggapan, kami memutuskan untuk lanjut dan memulai kelas dengan 18 anak," ujar Asad Shadan, pendiri RLC.

"Dalam enam bulan, ada 100 anak yang mendaftar, dan sekarang kami memiliki 200 murid dan 16 guru. Hal ini membuat kami ada kegiatan."

Berkat sumbangan dalam dua tahun terakhir, RLC sekarang memiliki perpustakaan yang cukup besar. Meskipun bahasa ibu orang-orang Hazara adalah Farsi, banyak di antara mereka, terutama yang lebih muda, berbicara Bahasa Inggris tanpa cela. "Kami punya banyak waktu untuk berlatih," canda Shadan.

Futsal

Program futsal RLC dengan cepat menjadi kegiatan utama sekolah. Mereka memiliki tiga liga, dua untuk anak-anak laki-laki dan satu untuk anak perempuan. Tim-timnya berlatih dua kali seminggu dan bertanding setiap Jumat.

Mereka berlatih di lapangan terbuka, yang kurang ideal karena hujan sering turun. Namun dalam enam bulan terakhir, seorang donor membantu menyewakan lapangan dalam ruangan untuk beberapa jam setiap minggu.

Selasa sore baru-baru ini, tim putri, beranggotakan sekitar 20 pemain berusia 12 sampai 20 tahun, muncul untuk latihan memakai celana lari, hijab dan pelindung siku dan lutut berwarna terang. Meskipun semua anak Hazara bersyukur ada penyaluran hobi olahraga mereka, tim ini lebih bersyukur lagi karena mereka tidak dapat memainkan olahraga itu di negara-negara asal mereka.

"Masyarakatnya sangat konservatif di negara asal saya, terutama dalam komunitas saya, komunitas Hazara," ujar Madiha Ali,17, yang berasal dari Quetta, Pakistan.

“Anak-anak perempuan tidak diizinkan bermain sepakbola dan olahraga lain."

Ali, yang mengajar matematika di RLC dan telah menulis memoar sepanjang novel mengenai pengalamannya, mengatakan futsal adalah saat paling menyenangkan tiap minggunya.

"Saya cinta futsal. Sepakbola bukan hanya olahraga, tapi lebih dari itu.. dimana kita datang dan melupakan semua kekhawatiran dan ketegangan."

Atifa Zamiri, pemain berusia 17 tahun asal Afghanistan, sepakat. "Kami betul-betul perlu relaksasi, dan sepakbola membuat pikiran dan perasaan santai," ujarnya.

Shadan sedang memimpin penggalangan dana untuk mempertahankan RLC karena para pengungsi tidak diperbolehkan bekerja, jadi semua program didanai sumbangan dan tabungan yang dibawa pengungsi.

"Pemerintah Indonesia berpura-pura kami tidak ada," ujar Shadan.

Sasaran

Pembawaan yang ceria dari para pengungsi, baik orang dewasa maupun anak-anak, adalah hal yang luar biasa mengingat kelompok Hazara merupakan orang-orang yang ditarget. Karena fitur wajah Asia Timur mereka, mereka adalah target berjalan di banyak wilayah Afghanistan, ujar Shadan.

"Bagaimana kami bisa bersembunyi jika wajah kami terlihat nyata Hazara?" katanya.

Shadan, yang dulu bekerja sebagai peneliti di perusahaan Australia, meninggalkan kota asalnya, Jaghori, tahun 2014 setelah Taliban menuduhnya mata-mata dan mengancam istri dan orangtuanya.

Ia meminta bantuan Kementerian Hak Asasi Manusia di Kabul, tapi mereka menolak. Ia kemudian pergi, pertama ke India, kemudian Malaysia, dan akhirnya ke Indonesia, setelah mendarat dengan kapal di Sumatera. Ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil, dan tidak permah melihat putranya yang berusia dua tahun kecuali dalam foto.

Di Cisarua, Shadan seperti kakak laki-laki semua orang, membantu anak-anak menyeberang, memberi masukan mengenai teknik futsal, dan ia tahu semua rencana pengajaran. Meskipun situasinya sulit, para pengungsi sangat giat dan produktif.

"Yang ingin kita hindari adalah, begitu dimukimkan, kita tidak punya keterampilan, atau anak-anak tidak mendapatkan pendidikan," ujar Shadan.

Mereka sedang dimukimkan, namun prosesnya sangat lambat.

Masoma Faqihi, 20, yang bermain futsal dengan hijab hitam berpayet, mengatakan keluarganya yang beranggotakan enam orang akhirnya disetujui untuk pergi ke AS, setelah tinggal selama tiga tahun di Cisarua.

"Saya suka mengajar di sekolah di sini tapi saya hampir menyelesaikan sekolah," ujarnya. "Saya dengar di Amerika kita bisa berbuat apa saja, jadi saya ingin menjadi penata rias wajah. Doakan saya berhasil!" [hd]