Penembakan di SMA California, Sedikitnya Dua Tewas, Polisi Geledah Rumah Tersangka

Polisi bersenjata mengamankan para siswa saat terjadi penembakan di Saugus High School di Santa Clarita, California, AS hari Kamis (14/11).

Seorang siswa menarik senjata api dari tas punggungnya dan mulai melepaskan tembakan ke arah sejumlah siswa lain di SMA yang terletak di Southern California Kamis pagi (14/11). Sedikitnya dua siswa tewas dan tiga lainnya luka-luka, sebelum tersangka pelaku menembak kepalanya sendiri tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 16, demikian penjelasan otorita berwenang.

Letusan senjata api pertama kali terdengar sekitar jam 7.30 pagi di SMA Saugus di pinggiran Santa Clarita, California. Para petugas yang datang menanggapi panggilan darurat 911, menemukan enam korban.

Sherif Kapten Kent Wegener mengatakan video keamanan menunjukkan hal terakhir yang dilakukan tersangka pelaku adalah menembak kepalanya sendiri dengan peluru terakhir dari senjata caliber 45.

Seorang siswi berusia 16 tahun dan siswa berusia 14 tahun tewas. Dua siswi lainnya, yang berusia 14 dan 15 tahun, serta seorang siswa berusia 14 tahun hingga kini masih dirawat di rumah sakit.

Para siswa saling berpelukan sementara dipertemukan dengan para orang tua mereka pasca penembakan di SMA Saugus di Santa Clarita, California (14/11).

Sherif Alex Villanueva mengatakan tersangka pelaku adalah siswa sekolah yang sama, tetapi tidak mengidentifikasi dirinya. Polisi sedang menggeledah rumahnya.

“Pada saat ini kami belum mengetahui indikasi motiv atau ideologinya,” ujar Paul Delacourt, agen FBI yang bertanggungjawab untuk situasi di Los Angeles.

Namun aparat keamanan, termasuk tim SWAT, telah menggeledah rumah tersangka, yang berada di dekat sekolah itu.

Santa Clarita adalah sebuah kota kecil yang terletak sekitar 48 kilometer barat laut pusat kota Los Angeles.

Meski Sudah Tiga Kali “Lockdown Drill,” Siswa Masih Panik

Suara tembakan membuat sejumlah siswa lari, sementara lainnya mengikuti prosedur keamanan yang baru saja dipraktikkan sebulan lalu.

Kyra Stapp, yang berusia 17 tahun, sedang menonton film dokumenter di kelasnya ketika mendengar dua suara tembakan. Kelas Stapp dan sejumlah siswa di kelas lain digiring ke ruang istirahat guru di mana mereka mengunci pintu dan mematikan lampu.

Kyra mengirim pesan teks kepada ibunya dan berupaya tidak membuat suara apapun. Mereka saling bertukar pesan sementara suara sirene dan helikopter meraung-raung di luar sekolah. Sejumlah aparat keamanan bersenjata menyerbu sekolah itu. Kyra dan teman-temannya digiring keluar ke tempat yang aman.

“Ia mengirim pesan teks pada saya dan tiba-tiba ia berhenti,” ujar ibu Kyra, Tracy Stapp kepada Associated Press. “Itu merupakan 10 menit terburuk dalam hidup saya,” tambahnya.

Foto udara menunjukkan saat polisi mengevakuasi para siswa ke tempat yang aman di tengah insiden penembakan, Kamis (14/11) (Foto: AP/KTTV-TV)

Sementara Shauna Orandi, yang berusia 16 tahun, mengatakan sedang berada di kelas bahasa Spanyol ketika mendengar suara empat letusan senjata api. Semula ia mengira itu suara instrumen dari kelas band di dekat kelasnya. Tetapi ia segera sadar ketika seorang siswa masuk ke ruang kelasnya dan mengatakan melihat seorang penembak. “Mimpi buruk saya menjadi kenyataan,” ujarnya ketika ia berhasil keluar menuju ke taman di dekat sekolah dan bertemu ayahnya. “Saya kira, ini dia, saya akan mati.”

Sekumpulan orang tua yang panik dan ketakutan tampak berkumpul di taman itu, menunggu bertemu dengan anak mereka lagi.

Undersherrif Tim Murakami lewat cuitan di Twitter mohon maaf kepada para orang tua, dengan mengatakan tim penyelidik berupaya mewawancara sejumlah siswa sebelum mempertemukan mereka kembali dengan orang tuanya.

SMA Saugus Dijaga 1 Wakil Sherrif dan 9 Penjaga, dengan 10 Kamera Keamanan

Menurut Collyn Nielson, kepala administratif bagi sekolah-sekolah di distrik itu mengatakan SMA Saugus dijaga oleh seorang wakil sherrif yang tidak bersenjata dan sembilan “penjaga sekolah” lainnya. Sekolah itu berpagar dan setiap pagi siswa biasanya masuk melalui beberapa pintu gerbang. Ada 10 kamera keamanan, tetapi tidak ada detektor metal.

Seluruh sekolah di distrik itu melangsungkan “lockdown drill” – semacam latihan jika menghadapi insiden penembakan di sekolah – sebanyak tiga kali dalam satu tahun, termasuk dua latihan yang dilakukan pada musim gugur ini,” ujar Nielson. (em/pp)