Pecalang di Bali Bantu Kegiatan Ramadan

  • Muliarta

Pecalang sedang berjaga di Monumen Kemanusian Bom Bali Kuta Bali. (VOA/Muliarta)

Pecalang atau pengamanan desa adat ikut menjaga keamanan berbagai kegiatan selama bulan suci Ramadan.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Badung Bali melibatkan Pecalang (pengamanan desa adat) dalam menjaga keamanan berbagai kegiatan umat Islam selama bulan suci Ramadan.

Pelibatan Pecalang dalam menjaga kegiatan umat Muslim selama Ramadan yang telah berlangsung sejak 2005 merupakan upaya menjaga toleransi antar umat beragama di kabupaten Badung Bali.

Ketua MUI Kabupaten Badung Bali H. Ahmad Shoim pada keteranganya di Badung, Senin (15/7) mengungkapkan, pecalang juga dilibatkan dalam menjaga keamanan di masjid-masjid selama Ramadan terutama saat umat Muslim melakukan shalat Tarawih.

Pecalang tidak saja dilibatkan dalam menjaga keamanan tetapi juga dalam mengatur parkir, ujarnya. Permohonan bantuan pengamanan Pecalang juga tidak memerlukan birokrasi yang berbelit-belit, karena cukup dengan melakukan koordinasi dengan Kelian Adat (Pimpinan Adat) desa di sekitar lokasi masjid, ujar Shoim.

“Umat merasa senang, merasa tenang, daripada umpamanya disana itu memakai polisi kelihatannya lebih serem, makanya lebih nyaman pakai pecalang. Karena memang ingin menunjukkan ini kebersamaannya, kerukunanya diantara umat beragama,” ujarnya.

Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali, Nyoman Gunadi menyampaikan, terjalinnya toleransi antar umat beragama di Bali selama ini karena masyarakat Bali memegang konsep menyama-braya (Persaudaraan). Selain itu masyarakat Bali sangat teguh memegang prinsip hidup Tat Twam Asi.

“Prinsip dasar Tat Twam Asi, aku adalah kamu, kamu adalah aku. Jadi kalau ingin diperlakukan baik, dihormati maka perlakukanlah baik orang itu. Jadi hal dasar berkaitan dengan Tat Twam Asi, bagaimana kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita mau diperlakukan,” ujarnya.

Sedangkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan potensi konflik antar umat beragama di Bali selama ini kecil karena adanya dialog yang terbuka antar umat beragama. Selain itu, ujarnya, tidak adanya monopoli kebenaran oleh salah satu agama di Bali, apalagi terdapat upaya untuk saling memahami antar umat beragama di Bali.

“Manusia itu suka serakah, memonopoli kebenaran, jadi dia pikir dia sendiri yang benar. Kalau sudah ada pihak yang memonopoli kebenaran maka orang lain jadi salah, itulah sumber konflik. Manusia itu suka serakah, punya pengikut 10 maunya 100, dengan memaksakan diri, akibatnya terjadi konflik,” ujarnya.

Pastika menambahkan toleransi antar umat beragama di Bali sudah terjalin sejak dulu. Buktinya adanya pelinggih (bangunan) di beberapa pura di Bali yang menjadi bukti toleransi antar umat beragama, eperti Pelinggih Ratu Dalem Mekah di Pura Gambur Anglayang Desa Kubu Tambahan, Buleleng dan adanya bangunan Klenteng di Pura Ulun Danu Batur Bangli.