Parlemen Jepang Kukuhkan Yoshihiko Noda sebagai PM Baru

Yoshihiko Noda, mantan Menteri Keuangan Jepang, terpilih sebagai PM Baru menggantikan Naoto Kan (30/8).

Yoshihiko Noda, mantan Menteri Keuangan Jepang, disetujui oleh majelis rendah di mana Partai Demokrat Jepang mempunyai mayoritas.

Parlemen Jepang memilih hari Selasa untuk mengukuhkan Yoshihiko Noda sebagai perdana menteri ke-6 negara itu dalam 5 tahun. Noda, yang ketika menteri keuangan telah memimpin ekonomi negara itu melalui masa yang sangat sulit, disetujui oleh majelis rendah di mana Partai Demokrat Jepang mempunyai mayoritas kuat, dan oleh majelis tinggi yang dikuasai oposisi.

Perdana Menteri yang mengundurkan diri Naoto Kan dan kabinetnya meletakkan jabatan sebelumnya hari Selasa, yang membuka jalan bagi Noda untuk mengangkat kabinetnya pekan ini.

Para anggota parlemen dari Partai Demokrat Jepang hari Senin memilih Noda sebagai ketua partai untuk menggantikan Kan, yang mengundurkan diri karena kecaman luas atas caranya menangani krisis yang diakibatkan oleh gempa-bumi dan tsunami yang sangat besar bulan Maret.

Setelah pemilihannya, Noda segera menghimbau persatuan dalam partainya yang mengalami pertentangan. Dalam pidatonya kepada para anggota parlemen dari partainya dari kedua majelis parlemen di sebuah hotel Tokyo, ia meminta kepada para anggota Demokrat agar bersatu dan menghentikan perselisihan sementara mereka menghadapi tantangan yang berat.

Noda menekankan pentingnya kerjasama dalam mengatasi ekonomi negara yang mengalami kesulitan, pemulihan dari bencana bulan Maret, dan mengakhiri krisis nuklir dari pembangkit nuklir Fukushima yang rusak.

Sebagai seorang sekutu Kan yang mengundurkan diri, Noda kemungkinan besar akan meneruskan banyak dari kebijakan pendahulunya itu. Ia juga dianggap pendukung kuat persekutuan keamanan Jepang-Amerika.

Di Washington, seorang jurubicara Departemen Luar Negeri Amerika Victoria Nuland mengatakan Amerika Serikat sangat menghendaki dilanjutkannya kerjasama erat dengan Jepang dan perdana menteri berikut dalam berbagai hal.

Dalam berita terkait, angka pengangguran Jepang naik sedikit bulan Juli, yang memberi indikasi negara itu masih menghadapi jalan yang panjang menuju pemulihan dari gempa-bumi dan tsunami bulan Maret.

Pemerintah Jepang mengumumkan hari Selasa bahwa angka pengangguran bulan lalu 4,7 persen, kenaikan 0,1 persen dari bulan Juni. Para pakar ekonomi tadinya sudah memperkirakan angka pengangguran akan tetap tidak berubah.

Angka tersebut tidak mencakup data dari bagian timur laut Jepang, yang paling parah terkena kedua bencana dan pelelehan nuklir kemudian di pembangkit Fukushima. Dalam laporan terpisah, pemerintah mengatakan pengeluaran belanja rata-rata rumah-tangga turun 2,1 persen bulan Juli dari setahun sebelumnya, ke sekitar 3.640 dolar AS.