Oposisi Suriah Bahas Kehadiran di Pembicaraan Damai Jenewa

Secretary of State John Kerry, center, arrives at the Camp David Presidential retreat in Maryland with, from left, Treasury Secretary Jacob Lew, Afghanistan's President Ashraf Ghani, Kerry, Afghanistan's Chief Executive Abdullah Abdullah, and Defense Secretary Ashton Carter.

Koalisi oposisi utama Suriah yang didukung Barat diperkirakan akan memutuskan di Istanbul hari Sabtu (18/1) apakah akan menghadiri pembicaraan damai pekan depan di Jenewa.
Koalisi Nasional Suriah berada di bawah tekanan berat Amerika untuk menghadiri konferensi itu, yang bertujuan untuk membentuk pemerintahan transisi. Para pemimpin oposisi sejauh ini menolak untuk menghadiri pembicaraan yang tidak menawarkan komitmen bahwa Presiden Bashar al-Assad akan mundur.

Sementara itu, pemerintah Suriah mengatakan telah menyampaikan rencana gencatan senjata di kota terbesar Aleppo kepada Rusia dan juga usul pertukaran tawanan dengan para pemberontak Suriah.

Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem ketika berkunjung ke Moskow hari Jumat (17/1) mengatakan ia telah menyampaikan usul-usul itu kepada Rusia sebagai persiapan perundingan damai yang akan diadakan minggu depan dengan pihak pemberontak.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry hari Jumat (18/1) memperingatkan Presiden Suriah bahwa Amerika tidak meninggalkan pilihan untuk menekan pemerintah Suriah agar memenuhi tujuan yang ditetapkan dalam konferensi Jenewa pertama.

Pemerintah Suriah menganggap semua pasukan pemberontak adalah teroris, dan telah berusaha mengalihkan fokus dari usulan pembicaraan damai untuk membentuk pemerintahan baru ke fokus memerangi ekstremisme.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry hari Kamis (17/1) mengatakan pembicaraan itu merupakan kesempatan terbaik bagi oposisi untuk mencapai sasaran rakyat dan revolusi Suriah.

Para pemimpin oposisi sejauh ini telah menolak menghadiri pembicaraan, yang mulai 22 Januari, tanpa janji sebelumnya bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad akan meletakkan jabatan.

Pemerintah Suriah telah setuju menghadiri konferensi itu, tetapi telah berusaha menggeser fokus dari pembentukan pemerintah baru ke perang melawan terorisme. Assad menganggap pemberontak Suriah teroris.