Obama Hadapi Tekanan Terkait Pembangunan Jalur Pipa Minyak AS-Kanada

Ribuan pengunjuk rasa membawa replika pipa minyak Keystone XL di depan Gedung Putih (Foto: dok). Isu ini kembli muncul di awal masa jabatan ke-2 Presiden Barack Obama.

Keputusan Obama terkait masalah jalur pipa minyak Keystone XL akan dipandang sebagai cerminan dari apa yang akan dilakukannya terhadap masalah iklim dan energi dalam masa empat tahun mendatang.
Memulai masa jabatannya yang ke-2, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menghadapi tekanan yang kian kuat terhadap keputusan yang telah ditundanya selama masa kampanye pemilihan yang baru lewat, terkait pembangunan jalur pipa minyak Keystone XL antara Amerika dan Kanada senilai $7 miliar.

Sepintas, isu ini merupakan pilihan antara penciptaan lapangan pekerjaan dan pelestarian lingkungan. Namun isu ini juga menjadi ajang pertarungan besar antara pemenuhan kebutuhan energi Amerika dan usaha mengatasi perubahan iklim, yang makin dipertajam oleh bencana Badai Sandy dan hasil pemilu baru-baru ini, yang juga mencerminkan sebuah referendum ekonomi.

Para aktivis lingkungan dan produsen minyak sama-sama memandang keputusan Obama tersebut sebagai cerminan dari apa yang akan dilakukannya terhadap masalah iklim dan energi dalam masa empat tahun mendatang.

Kedua pihak berharap bahwa Obama, yang kini bebas dari tekanan politik karena telah terpilih kembali, akan berpihak kepada mereka dalam masalah ini dan beragam isu terkait lainnya di masa datang.

Namun Obama tampak tidak tergesa-gesa untuk mengambil tindakan terkait masalah jalur pipa minyak yang akan mengangkut minyak mentah sejauh 1.700 mil dari Kanada barat ke kilang-kilang minyak di Pantai Teluk Texas ini.