Mikroplastik Ancam Kesehatan Manusia, Dibutuhkan Regulasi Larangan Plastik Sekali Pakai

Sampah plastik dan styrofoam di pantai Cilincing, Jakarta, Indonesia, 26 November 2018. (Foto: Willy Kurniawan/Reuters)

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menemukan sejumlah fakta bahwa mikroplastik sangat mengancam biota laut. Ironisnya, biota laut yang mengandung mikroplastik merupakan makanan yang kerap dikonsumsi manusia. Diperlukan regulasi soal larangan plastik sekali pakai guna menyelamatkan biota laut dan manusia.

Prigi Arisandi dari Ecoton. (Foto: VOA/ Petrus Riski)

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi menjelaskan bahwa penelitian terkait mikroplastik mengungkapkan fakta jika di dalam biota air tepatnya di wilayah pesisir utara Pulau Jawa Timur mulai dari Kabupaten Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo, mengandung mikroplastik. Sampah plastik di perairan mengakibatkan biota laut terkontaminasi mikroplastik. Padahal biota laut seperti kerang, ikan, teripang, udang dan kupang (siput laut) kerap dikonsumsi manusia.

“Yang paling banyak kerang dan kupang di satu individu kita bisa menemukan 40 sampai 100 partikel mikroplastik. Jadi kalau kita punya kebiasaan kerang itu kan puluhan. Bisa dibayangkan ribuan partikel mikroplastik yang kita konsumsi saat memakan makanan laut ini,” kata Prigi kepada VOA, Senin (8/3).

Masuknya partikel mikroplastik ke dalam tubuh manusia melalui pangan laut yang telah terpapar dinilai berbahaya. Kata Prigi, plastik bisa menjadi media tumbuhnya patogen. Pada mikroplastik terdapat zat adiktif yang bisa mengganggu hormon manusia.

Para relawan memunguti sampah plastik yang banyak berserakan di pantai Kenjeran sisi timur Jembatan Suramadu (Foto: VOA/Petrus Riski)

“Kita tahu Indonesia 93 persen sungainya sudah dalam kondisi tercemar itu kemudian akan terikat di dalam mikroplastik ini. Mikroplastik itu polimer yang kemudian ada bahan-bahan adiktif. Zat adiktif itu ternyata bersifat mengganggu hormon. Artinya ini kalau sudah banyak yang kita konsumsi dan mengendap di dalam tubuh. Maka gangguan hormon seperti gagal ginjal, keguguran, itu sangat mungkin terjadi bagi manusia yang banyak mengonsumsi mikroplastik,” jelasnya.

Melihat bahaya dari mikroplastik, Ecoton kemudian membuat petisi pada 2019 terkait dukungan untuk mendesak pemerintah membuat standar keamanan pangan laut. Petisi itu juga meminta pemerintah kabupaten/kota yang dilewati sungai Bengawan Solo dan sungai Brantas agar membuat peraturan daerah tentang pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Sampah-sampah plastik tampak mencemari Laut Teluk Lampung, Bandar Lampung, 21 Februari 2019 lalu (foto: ilustrasi/AFP).

“Karena temuan kami 42 persen sampah di sungai adalah plastik. Sampah plastik menjadi problem besar dan ini karena layanan pengelolaan sampah pemerintah itu hanya mampu melayani sekitar 40 persen. Artinya, 60 persen masyarakat mereka membuang sampah ke perairan terbuka," ucapnya.

Bukan hanya pemerintah, para produsen plastik juga diminta turut berkontribusi mengelola sampah yang mereka hasilkan.

Your browser doesn’t support HTML5

Mikroplastik Ancam Kesehatan Manusia, Dibutuhkan Regulasi Larangan Plastik Sekali Pakai

“Jadi mereka harus menyediakan kontainer sampah khusus. Sebab sampah plastik produsen seperti kemasan makanan itu bentuknya multi layer susah didaur ulang sehingga harus ada tanggung jawab produsen karena mereka membebani lingkungan kita. Kami juga mendorong masyarakat setop makan plastik. Mari mengurangi pemakaian plastik sekali pakai seperti saset, botol minum kemasan, sedotan, dan styrofoam,” ungkap Prigi.

Sementara tujuh siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Driyorejo, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, melakukan penelitian mikroplastik pada feses manusia. Mikroplastik diduga bisa masuk ke tubuh manusia lewat saluran pencernaan karena berukuran kecil. Sebab, mikroplastik telah mengontaminasi makanan dan minuman manusia.

Sampah plastik terlihat menutupi permukaan Sungai Citarum, Jawa Barat, yang masuk dalam daftar 10 tempat paling tercemar di dunia tahun 2013 (Foto: dok)

“Hasil penelitian pada feses tujuh siswa SMKN 1 Driyorejo seluruhnya positif mengandung mikroplastik. Secara umum mikroplastik yang didapatkan ada tiga jenis yakni filamen, fragmen, dan fiber,” kata Celin Sefiana salah satu siswa dalam sebuah acara webinar Setop Makan Plastik, Senin (8/3).

Jika tidak dikendalikan, plastik terdegradasi menjadi mikroplastik dan mencemari biota laut. Itu akan mengancam keamanan pangan laut yang dihasilkan nelayan dan petambak. Bukan hanya itu, bahaya mikroplastik juga akan menghantui manusia. [aa/em]