Masjid Diaspora Indonesia Putar 'An American Mosque'

Your browser doesn’t support HTML5

'An American Mosque' di Masjid Diaspora Indonesia

Berbagai kegiatan Ramadan digelar oleh diaspora Indonesia di Washington DC dan sekitarnya. Baru-baru ini IMAAM Center memutar film dokumenter 'An American Mosque' yang mengisahkan perjuangan umat Muslim di California melawan Islamaphobia dan merangkul umat beragama lainnya, dan menghadirkan sutradara film tersebut.

Film ini mengisahkan tentang komunitas Muslim dan Islamic Center di Yuba City, California yang berlangsung pada tahun 1994, jauh sebelum tragedi 11 September. Walaupun begitu, kisah ini masih sesuai dengan keadaan di masa kini karena ketakutan terhadap “perbedaan” masih terus menjadi berita utama media-media besar.

Komunitas Muslim Yuba, yang mendirikan masjid mereka dan kemudian dibakar sebelum selesai karena alasan kebencian, melihat bagaimana komunitas agama lain membantu mereka membangun kembali rumah ibadah tersebut.

Amerika, kata David Washburn, sutradara film itu, adalah tempat yang terbaik ketika semua orang dari berbagai latar belakang menentang ketidakadilan, bekerjasama, dan menolak “perbedaan” sebagai alasan perpecahan dan ketakutan. Sejarah menunjukkan bahwa sikap ini menghasilkan perubahan positif bagi perjuangan hak-hak sipil, hak-hak gender, keseteraan gender dan upaya perdamaian antar agama.

Sutradara berdarah Yahudi ini diundang untuk memutar filmnya oleh komunitas Muslim Indonesia di kawasan Silver Spring, negara bagian Maryland.

“Kita ingin komunitas antar agama di Montgomery County mendengarkan sendiri kisah ini dari non Muslim. Pembuat film ini adalah orang Yahudi, dan ia justru membuat film dokumenter tentang komunitas Muslim dan interfaith,” kata Amang Sukasih, Ketua Indonesian Muslim Association in America (IMAAM).

Selain umat Muslim, acara ini juga dihadiri tokoh lintas agama setempat.

'An American Mosque' digelar di IMAAM Center yang merupakan masjid khusus komunitas Muslim Indonesia yang diresmikan September 2014 oleh Presiden SBY saat itu dengan pesan menampilkan wajah Islam yang khas Indonesia yaitu terbuka, ramah dan inklusif.

Pesan inklusif ini sampai ke telinga pendeta Mansfield Kaseman yang hadir atas undangan IMAAM.

“Inilah yang didapat dari komunitas antar agama. Ini adalah tempat yang penuh cinta. Dan cinta tidak memandang perbedaan etnis, agama dan latar belakang sosial dan ekonomi,” ujar

Selama bulan Ramadan, film ini diputar di masjid dan Islamic center di berbagai kota di Amerika dan juga ditayang di TV nasional, PBS.

“Bangunan boleh terbakar, tapi semangat tak akan terkalahkan.”