Ledakan di Davao, Filipina, 14 Tewas

Petugas kepolisisn memeriksa korban yang tewas pasca ledakan di sebuah pasar di selatan kota Davao, Filipina, 2 September 2016 (AP Photo/Manman Dejeto).

Presiden berada di Davao pada waktu ledakan, tetapi tidak dekat pasar tersebut. Militan Abu Sayyaf telah mengaku bertanggungjawab atas serangan itu.

Presiden Filipina menyatakan “keadaan tanpa hukum”, Sabtu (3/9) setelah 14 orang tewas dan banyak lainnya luka-luka dalam ledakan bom, sebagian dalam keadaan gawat. Ledakan hari Jumat itu terjadi di sebuah pasar di Davao, kota asal Presiden Rodrigo Duterte.

Presiden berada di Davao pada waktu ledakan, tetapi tidak dekat pasar tersebut. Militan Abu Sayyaf telah mengaku bertanggungjawab atas serangan itu.

Pernyataan ketidakpedulian hukum itu mengizinkan militer bekerjasama dengan polisi untuk memasang pos-pos pemeriksaan dan meningkatkan patroli. Duterte mengatakan angkatan bersenjata dan kepolisian saat ini akan mengelola negara sesuai dengan “ketentuan-ketentuannya.”

Ledakan tersebut melanda satu bagian pasar dekat Hotel Marco Polo yang mewah, dimana Duterte sering menginap.

Duterte adalah mantan walikota Davao, di mana ia sangat populer selama lebih 22 tahun, sebelum memangku jabatan presiden bulan Juni lalu.

Militan Abu Sayyad telah menyatakan kesetiaan kepada ISIS. Mereka terkenal melakukan pemboman-pemboman maut, penculikan untuk memperoleh uang tebusan dan pemenggalan kepala sandera. [gp]