Wawancara: Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia

  • Leonard Triyono

Romo Hariawan Aji (foto: courtesy).

Romo F.X. Hariawan Aji, O.Carm, Sekretaris Provinsial Ordo Karmel Indonesia di Malang, baru-baru ini menghadiri program yang diselenggarakan di Drew University di negara bagian New Jersey, AS.

Romo F.X. Hariawan Aji, O.Carm, sekretaris Provinsial Ordo Karmel Indonesia di Malang, dan dosen Universitas Airlangga di Surabaya baru-baru ini menghadiri dan sekaligus menjadi anggota panitia program Drew Institute on Religion and Conflict Transformation, suatu program untuk melatih para pemimpin Muslim, Kristen dan Yahudi dari berbagai penjuru dunia dalam transformasi konflik agama dan perdamaian.

Program ini diselenggarakan di Drew University di negara bagian New Jersey, Amerika serikat. Dalam kesempatan ini wartawan VOA, Leonard Triyono berkesempatan mewawancari Romo Hari dan berikut cuplikannya.

VOA: Romo Hariawan Aji, terima kasih atas waktu yang diberikan untuk berbincang-bincang dengan VOA. Pertama, mohon jelaskan program yang sedang Anda ikuti di Amerika.

Romo Hariawan Aji (HA): Kami mengikuti program Drew Institute on Religion and Conflict Transformation atau dalam bahasa Indonesia “Institut Drew tentang Agama dan Transformasi Konflik. Sesuai namanya, penyelenggara utamanya adalah Drew University yang juga mengundang beberapa orang termasuk saya untuk menjadi panitia dalam kegiatan ini. Ada tiga orang yang diundang untuk menjadi anggota panitia; satu dari Israel, satu dari Pakistan dan satu lagi saya sendiri dari Indonesia. Penyokong dana untuk acara ini adalah yayasan Carnegie.

VOA: Secara geografis, ketiga anggota panitia itu tampaknya mewakili kawasan. Selain itu apakah mereka juga mewakili agama-agama tertentu?

HA: Dari segi agama, yang kami undang adalah mereka yang mewakili tiga agama Abrahamik atau yang biasa disebut agama Samawi. Ketiga agama itu adalah Yahudi, Islam dan Kristen, sedangkan pesertanya berasal dari enam negara, yakni Israel, Palestina, Nigeria, Pakistan, Mesir dan Indonesia.

VOA: Berapa orang peserta dari Indonesia dan siapa saja mereka?

HA: Dari Indonesia ada enam orang. Mereka adalah orang-orang muda yang sangat aktif dalam kegiatan antar-agama. Peserta dari Indonesia berasal dari Muhammadiyah, NU, Syiah, Kristen yang diwakili oleh Katolik, dan juga dari Islam Nusantara. Program pertama tahun 2013 juga diikuti oleh seorang ibu dari Yogyakarta yang mewakili Ahmadiyah.

VOA: Apa sebenarnya yang menjadi latar belakang diselenggarakannya program ini?

HA: Awalnya kami berfikir tentang bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik. Setelah kami berdiskusi panjang lebar, kami kemudian mendapat pencerahan bahwa ternyata konflik itu sebenarnya penting. Konflik itu merupakan suatu kekuatan yang bisa merukunkan. Oleh sebab itu acara ini tidak kami namakan conflict resolution atau penyelesaian konflik, tetapi conflict transformation, yaitu bagaimana mengubah konflik menjadi suatu perdamaian. Jadi, para peserta program ini diundang dari negara-negara yang berunsur konflik, dan ada kemungkinan konflik itu bisa ditransformasi menjadi kekuatan demi kebaikan bersama.

VOA: Dengan demikian sebenarnya Indonesia termasuk negara yang rentan konflik?

HA: Indonesia cukup rentan konflik. Beberapa kali terjadi konflik komunal yang sebenarnya bisa ditransformasi menjadi kekuatan. Selama ini kita hanya berusaha menyelesaikan konflik. Akibatnya penyelesaian itu hanya pada permukaan dan tidak sampai pada akarnya.

Your browser doesn’t support HTML5

Wawancara: Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia


VOA: Program ini bentuknya seperti apa?

HA: Para peserta diundang untuk hidup bersama. Mereka berasal dari latar belakang agama yang berbeda, negara yang berbeda, dan kultur yang berbeda, tapi mereka ditempatkan di asrama yang sama dan beraktivitas mulai dari pagi sampai malam bersama-sama. Tujuannya adalah agar mereka bisa saling mengenal. Memang, awalnya mereka saling curiga, dan bertanya-tanya tentang maksud dan tujuan kegiatan demikian. Tapi setelah program yang berlangsung selama sebulan itu selesai, mereka akhirnya menjadi seperti saudara. Itulah yang kami namakan conflict transformation. Dari keadaan yang berpotensi konflik, dan sebenarnya mereka juga berkonflik di situ karena mereka juga saling beradu pendapat, tapi akhirnya mereka menjadi sadar bahwa kita memang berbeda tapi sesungguhnya kita juga bersaudara, bahwa kita sebenarnya sama sebagai manusia.

VOA: Tadi dikatakan program ini berlangsung selama satu bulan. Apakah durasi itu dianggap cukup bagi peserta untuk bertransformasi?

HA: Satu bulan ternyata cukup untuk menjadikan orang bersaudara. Saya pikir kalau dipraktekkan di lapangan – kita kan punya waktu bertahun-tahun – maka persaudaraannya pasti bisa semakin kuat.

VOA: Mengenai Indonesia yang dianggap sebagai salah satu negara yang rentan konflik. Menurut Romo, bagaimana kondisi hubungan antar golongan di Indonesia, misalnya antar suku, etnis, ras, dan terutama antar umat beragama?

HA: Kalau kita lihat secara permukaan, semuanya baik-baik saja, tetapi kalau kita amati lebih jauh masih ada konflik-konflik yang terjadi, dan bisa begitu cepat terjadi, padahal sumber masalahnya sepele. Contohnya kasus terakhir di Tanjung Balai. Penyebabnya sepele, tetapi kenapa bisa berkembang menjadi konflik yang begitu besar? Karena yang selama ini diselesaikan hanya di permukaan. Konflik itu belum diolah, sehingga terpendam di dalam dan akibatnya ketika ada satu hal yang memercik konflik itu untuk terbakar, maka akan cepat sekali terbakar. Saya pikir (kondisi kehidupan antar-umat beragama di) Indonesia selama ini baik dari permukaannya, tetapi harus ada yang dikerjakan lebih serius lagi untuk menyelesaikan akarnya, yaitu menciptakan transformasi konflik itu sendiri.

Konflik dalam hidup bersama pasti ada, tetapi bagaimana konflik itu diolah menjadi kekuatan untuk kebaikan bersama. Kalau kita lihat pengalaman kemarin, penyelesaian konfliknya dengan pembuatan akta perdamaian antara kelompok ini dan kelompok itu. Saya pikir yang perlu dilakukan adalah masuk ke dalam masyrarakat, kemudian mengolah bersama-sama masyarakat untuk menjadikan konflik itu sebagai kekuatan, seperti yang kami lakukan di Drew University. Kalau kita hidup bersama dan terbuka satu sama lain, misalnya ada perasaan sakit hati yang diungkapkan dengan jujur dan dengan kepala dingin, maka konflik itu akan menjadi kekuatan. Ini berarti antar kelompok perlu saling mengenal.

VOA: Mungkin ada harapan yang ingin Romo sampaikan?

HA: Saya berharap pemerintah dan juga masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat atau juga lembaga-lembaga kemasyarakatan mau terjun menyelesaikan akar masalah, berusaha bagaimana menciptakan persaudaraan sejati di antara anggota-anggota masyarakat yang berbeda suku, berbeda agama, sehingga peristiwa-peristiwa konflik yang terbuka yang terjadi selama ini dan merugikan kita semua sungguh-sungguh dapat dihindari. Ini merupakan PR bagi kita bersama. Mari, kita semua anggota masyarakat dan juga pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan bekerja sama untuk itu.

VOA: Terima kasih Romo Hariawan Aji. [lt]