Karyawan Apple Mengaku Dipecat Setelah Memimpin Gerakan Melawan Pelecehan

Logo Apple tergantung di atas pintu masuk toko Apple di 5th Avenue di wilayah Manhattan, New York City, 21 Juli 2015. (Foto: Reuters)

Seorang karyawan Apple, yang menginisiasi upaya untuk berbagi secara terbuka tentang apa yang mereka sebut pelecehan dan diskriminasi yang terjadi di perusahaan tersebut, mengatakan pada Kamis (14/10) bahwa dia telah dipecat.

Janneke Parrish, seorang manajer program Apple, mengatakan produsen iPhone tersebut memberitahunya pada Kamis (14/10) bahwa dia telah diberhentikan karena menghapus materi pada peralatan perusahaan saat dia sedang diselidiki atas bocornya pertemuan town hall perusahaan ke media. Kepada Reuters, ia menyangkal telah membocorkan materi tersebut.

Parrish mengatakan dia menghapus aplikasi yang berisi rincian keuangannya dan informasi pribadi lainnya sebelum menyerahkan perangkatnya ke Apple sebagai bagian dari penyelidikan.

BACA JUGA: Apple Umumkan 'Kebijakan HAM' Setelah Dikecam

Parrish mengatakan dia yakin dia dipecat karena aktivitasnya di tempat kerja.

"Bagi saya, ini jelas merupakan pembalasan atas fakta bahwa saya berbicara tentang pelanggaran yang terjadi di tempat saya bekerja, kesetaraan gaji dan, secara umum, tentang kondisi tempat kerja kami," katanya.

Apple mengatakan pada Jumat (15/10) bahwa mereka tidak membahas masalah karyawan tertentu.

Apple baru-baru ini mengalami contoh lain dari keresahan karyawan. Bulan lalu, dua karyawan Apple mengatakan kepada Reuters bahwa mereka telah mengajukan tuntutan terhadap perusahaan tersebut ke Dewan Hubungan Tenaga Kerja Nasional. Para pekerja menuduh Apple melakukan pembalasan dan menghentikan diskusi tentang gaji di antara karyawan, di antara tuduhan lainnya.

Apple telah mengatakan "sangat berkomitmen untuk menciptakan dan memelihara tempat kerja yang positif dan inklusif" dan bahwa itu mengambil "semua kekhawatiran" para karyawan dengan serius.

BACA JUGA: Amazon Hapus Aplikasi Al-Quran, Alkitab dari Apple Store di China

Hukum Amerika Serikat (AS) melindungi hak karyawan untuk mendiskusikan topik tertentu secara terbuka, termasuk kondisi kerja, diskriminasi, dan upah yang setara.

Selama musim panas, karyawan Apple dan mantan karyawan mulai merinci di media sosial apa yang mereka katakan sebagai pengalaman pelecehan dan diskriminasi. Parrish dan beberapa rekannya mulai menerbitkan cerita di media sosial dan platform penerbitan dalam ringkasan mingguan berjudul '#AppleToo.'

Parrish mengatakan dia berhati-hati untuk menghormati peraturan perusahaan dan tidak pernah membagikan informasi yang dia yakini sebagai rahasia. Dia mengatakan dia terus menerbitkan intisari '#AppleToo' setelah diinvestigasi pada akhir September.

"Jika ada, itu membuat pentingnya pekerjaan itu lebih jelas dari sebelumnya, ketika tanggapan Apple terhadap kritik adalah memulai penyelidikan internal terhadap mereka yang ingin dihilangkan," katanya. "Lebih mudah bagi mereka untuk menghentikan orang daripada bagi mereka untuk benar-benar mendengarkan." [ah/rs]