Kacamata Google Glass Bantu Anak Dengan Autisme Baca Ekspresi Wajah

Seorang perempuan mengenakan kacamata pintar Google setelah pemaparan kepada media di apartemen Google di Praha, 15 Mei 2014.

Sebuah percobaan kecil menunjukkan bahwa anak-anak dengan spektrum autisme mungkin lebih mudah membaca ekspresi wajah, dan melihat situasi interaksi sosial ketika mereka menggunakan kacamata pintar Google Glass yang dipasangkan dengan aplikasi ponsel pintar.

Para peneliti menemukan bahwa sistem yang disebut “Superpower Glass” ini, membantu mereka menguraikan apa yang terjadi dengan orang-orang di sekitar mereka.

Percobaan ini melibatkan 71 anak-anak, usia enam hingga 12 tahun, yang menerima pengobatan standar untuk autisme yang dikenal sebagai terapi analisis perilaku terapan. Jenis terapi ini biasanya melibatkan penggunaan latihan terstruktur seperti kartu flash yang menggambarkan wajah, untuk membantu anak-anak belajar mengenali emosi yang berbeda.

Sebanyak 40 anak secara acak ditugaskan untuk menggunakan sistem “Superpower Glass” – kacamata dengan kamera dan speaker yang mengirim informasi tentang apa yang dilihat dan didengar anak-anak, ke aplikasi ponsel pintar yang dirancang untuk membantu mereka memecahkan kode dan merespon interaksi sosial.

Sementara anak-anak dengan autisme dapat berjuang untuk mengenali dan merespon emosi, aplikasi memberi mereka umpan balik secara nyata untuk membantu meningkatkan keterampilan ini.

Setelah enam minggu menggunakan Superpower Glass dalam sesi 20 menit empat kali seminggu, anak-anak yang menerima dukungan digital ini mendapat nilai lebih baik pada tes sosialisasi, komunikasi dan perilaku, daripada kelompok kontrol dari 31 anak yang hanya menerima perawatan standar untuk autisme.

Penulis studi senior dari Stanford University di California Dennis Wall, mengatakan dengan Superpower Glass “Anak-anak belajar mencari interaksi sosial, belajar bahwa wajah itu menarik, dan mereka dapat mempelajari apa yang mereka katakan atau apa yang dikatakan wajah itu kepada mereka."

“Ini sangat bagus karena mendorong inisiasi sosial – suatu bentuk pembinaan motivasi sosial – oleh anak dan mereka belajar bahwa mereka bisa mendapatkan hal-hal ini. Mereka bisa mendapatkan emosi dari mitra sosial mereka sendiri,” kata Wall melalui email.

Superpower Glass dirancang untuk membantu kesulitan anak-anak dengan autisme – bagaimana cara memahami isyarat sosial dan menggunakan pengalaman masa lalu untuk belajar cara meresponnya dalam berbagai situasi.

Kacamata ini bertindak sebagai pembawa pesan dan juru bahasa, dengan mengandalkan kecerdasan buatan untuk menawarkan umpan balik secara nyata yang dapat membantu anak-anak melacak wajah dan mengklasifikasikan emosi. Lampu hijau berkedip saat anak-anak melihat wajah, dan kemudian aplikasi akan menggunakan emoji untuk memberitahu anak apa emosi yang ditampilkan di depan mereka, apakah itu ekspresi bahagia, marah, takut atau terkejut.

“Ekspresi wajah sangat kompleks, dinamis, dan unik,” kata Geraldine Dawson, Direktur Pusat Autisme dan Perkembangan Otak Duke di Durham, North Carolina.

“Emoji jauh lebih sederhana, rangsangan statis,” kata Dawson yang tidak terlibat dalam penelitian ini, melalui email. “Jadi, masuk akal memang jika emoji akan lebih mudah dimengerti oleh seseorang dengan autisme.”

Interaksi anak-anak juga dicatat oleh aplikasi sehingga orang tua dapat melihat kemudian, dan berbicara dengan anak-anak tentang sejauh mana mereka bisa mengenali dan merespon emosi.

“Elemen-elemen intervensi ini memungkinkan pembelajaran kehidupan nyata,” kata Wall.

Wall adalah pendiri Cognoa.com, sebuah perusahaan yang bermitra dengan Stanford guna mengembangkan perangkat digital untuk mengobati autisme.

Google Glass menjadi kontroversial karena masalah privasi tentang bagaimana sesuatu yang direkam dapat disimpan atau dibagikan. Percobaan tersebut hanya dilakukan pada anak-anak yang menggunakan Superpower Glass di rumah dengan teman dekat atau anggota keluarga mereka saja.

“Penggunaan teknologi untuk pemeriksaan dan perawatan autisme masih merupakan bidang studi yang relatif baru, dan kami harus banyak belajar,” kata Dawson.

“Pendekatan ini sangat menjanjikan,” tambah Dawson. “Tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami apakah Superpower Glass layak digunakan, berapa banyak keluarga yang akan memilih untuk menggunakannya, dan dampaknya pada keterampilan sosial anak-anak dengan autisme.” [er/ft]