Jakarta Kota dengan Kemacetan Lalu Lintas Terburuk di Dunia

  • Steve Herman

Kemacetan di tengah hujan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Jakarta adalah kota dengan kemacetan terburuk, berdasarkan data navigasi satelit untuk lalu lintas di 78 kota di dunia dengan alat TomTom GPS, untuk waktu kendaraan berhenti dan berjalan lagi.

Tiga dari kota dengan kemacetan lalu lintas terburuk di dunia ada di Asia Tenggara. Data yang baru-baru ini dikumpulkan menunjukkan bahwa para pengendara di kota-kota seluruh dunia menghabiskan rata-rata sepertiga perjalanan mereka dalam kemacetan total.

Namun kota dengan kemacetan terburuk, berdasarkan data navigasi satelit untuk lalu lintas di 78 kota di dunia dengan alat TomTom GPS, adalah Jakarta untuk waktu kendaraan berhenti dan berjalan lagi.

Di posisi kedua adalah Istanbul, disusul dengan Mexico City, Surabaya dan St. Petersburg di Rusia. Kota-kota lainnya dalam 10 teratas adalah Moskow, Roma, Bangkok, Guadalajara dan Buenos Aires.

Kemacetan jalan raya di Bangkok, yang ada di posisi ke-8 kota termacet di dunia. (VOA/Steve Herman)

Di China, kemacetan lalu lintas di Shanghai lebih buruk daripada di Beijing. Para pengendra di Shanghai menghabiskan 33 persen waktu mereka di jalanan berhenti, dibandingkan dengan 27 persen di Beijing.

Direktur Lembaga Kebijakan Transportasi dan Pembangunan (ITDP), Yoga Adiwinarto, mengatakan bahwa dalam jam-jam sibuk di Jakarta, macet total kerap terjadi dan gerakan berhenti dan berjalan lagi berlangsung sepanjang hari.

Hanya 13 persen perjalanan di Jakarta adalah menggunakan transportasi publik.

Yoga mengatakan pembangunan kereta api cepat MRT sudah agak terlambat.

"Kita lambat menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi dan juga pertumbuhan penduduk harus diatasi. Dan kita baru menyadarinya pada beberapa tahun terakhir." ujarnya.

Yoga memperkirakan bahwa jumlah bahwa perjalanan berkendaraan setiap hari akan semakin intens dan dalam beberapa tahun akan membuat orang-orang beralih dari mobil pribadi dan sepeda motor ke transportasi publik.

Sampai saat itu, para pengendara di Jakarta hanya dapat memandang iri pada penduduk di Tempere, Finlandia dan Rotterdam di Belanda, dua kota dengan gerakan lalu lintas tercepat di dunia.