Iran Akui Tahun Lalu Alami Resesi Ekonomi, Lebih Buruk dari Perkiraan

Warga Iran belanja barang-barang di Grand Bazaar di ibu kota Teheran (foto: ilustrasi).

Iran mengatakan ekonominya tahun lalu terjerumus dalam resesi lebih buruk dari yang diperkirakan organisasi internasional, ketika Amerika mulai menerapkan kembali sanksi keras terhadap industri minyak vital Iran dan sektor keuangan lainnya.

Dalam laporan yang diterbitkan hari Minggu (16/6), Biro Pusat Statistik Iran mengatakan produk domestik bruto Iran menyusut sampai 4,9% pada tahun anggaran terakhir Iran yang berakhir pada 21 Maret.

Bank Dunia, lembaga keuangan berkantor di Washington yang memberikan pinjaman kepada negara-negara, menerbitkan laporan awal bulan ini. Laporan itu memperkirakan, PDB Iran menyusut 1,9% pada 2018 setelah pertumbuhan 3,8 % pada tahun 2017.

Dana Moneter Internasional, lembaga pemberi pinjaman global lain yang berkantor pusat di Washington, merilis laporan pada bulan April yang mendapati, GDP Iran mengalami perubahan sebesar 3,9% pada tahun 2018.

Kedua lembaga ini juga memperkirakan resesi Iran akan semakin buruk tahun ini, dengan Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan -4,5% dan IMF -6%. Presiden Donald Trump menerapkan kembali sanksi pada berbagai sektor ekonomi Iran Agustus lalu, sebagai bagian dari upaya memberi "tekanan maksimum" terhadap Iran untuk merundingkan diakhirinya kegiatan nuklir yang dianggap jahat.

Pendahulu Trump telah mencabut sanksi-sanksi itu sebagai bagian dari kesepakatan 2015 antara Iran, Amerika dan lima kekuatan dunia lainnya guna membiarkan Teheran bergabung kembali dengan ekonomi global sebagai imbalan mengekang program nuklirnya.

Trump mengatakan kesepakatan itu tidak cukup kuat untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir atau terlibat dalam kegiatan regional lain yang tidak stabil. Teheran membantah tujuan-tujuan tersebut.

Sebagai bagian dari upaya penekanannya, Trump secara sepihak mengenakan sanksi pada ekspor minyak Iran, sumber pendapatan utamanya, pada bulan November. Ia juga mengizinkan beberapa pelanggan Iran untuk terus mengimpor minyak mentah Iran sampai kemudian mewajibkan mereka mengurangi impor menjadi nol bulan lalu. Tidak satupun dari negara negara itu mengumumkan membeli minyak dari Iran sejak saat itu. (my/ps)