Hampir 550 Budak Nelayan Ditemukan di Kepulauan Aru

  • Associated Press

Para nelayan Myanmar menunggu waktu keberangkatan dari kompleks perusahaan perikanan Pusaka Benjina Resources di Benjina, Kepulauan Aru (3/4). (AP/Dita Alangkara)

Banyak dari mereka berasal dari Myanmar yang ingin pulang, namun ada beberapa yang bertahan karena belum mendapatkan pembayaran beberapa tahun dari para majikan.

Jumlah nelayan yang diperbudak yang ditemukan di pulau terpencil di Maluku sekarang mencapai hampir 550 orang, setelah tim pencari fakta kembali dari kunjungan satu hari untuk menjamin tidak ada yang tertinggal hampir seminggu setelah lebih dari separuh pria-pria tersebut diselamatkan.

Banyak dari 210 pria itu diidentifikasi Kamis (9/4) sebagai warga negara Myanmar yang ingin pulang, namun ada beberapa yang bertahan -- pria-pria yang mengklaim mereka belum mendapatkan pembayaran beberapa tahun dari para majikan mereka, ujar Steve Hamilton, wakil kepala misi Organisasi Migrasi Internasional (IOM) di Jakarta.

Sebuah investigasi mendalam oleh kantor berita The Associated Press yang diterbitkan bulan lalu mengarah pada penemuan pelanggaran hak yang masif di desa pulau Benjina dan perairan di sekitarnya.

Laporan tersebut melacak hasil laut yang ditangkap budak dari sana ke Thailand, yang kemudian memasuki rantai pasokan dari beberapa jaringan pasar swalayan dan peritel terbesar di Amerika.

Banyak dari pria yang diwawancara mengatakan mereka ditipu atau bahkan diculik sebelum ditaruh di kapal-kapal di Thailand dan dibawa ke Indonesia. Mereka dipaksa untuk bekerja hampir non-stop dalam kondisi yang sangat buruk, beberapa secara brutal dipukuli oleh kapten-kapten Thailand jika mereka sakit atau kedapatan beristirahat.

Minggu lalu, pihak berwajib dari Indonesia menyelamatkan sekitar 330 migran dari Benjina, membawa mereka ke Pulau Tual, tempat mereka sekarang ditampung oleh pemerintah. Mereka yang ditemukan Kamis oleh sebuah tim, yang termasuk pejabat Myanmar, tetap di Benjina.

Tidak jelas siapa yang akan membayar repatriasi massal ini. Seorang mantan budak yang sekarang di Tual mengatakan kondisi mereka relatif baik di sana. Ia mengatakan para pria itu sekarang mendapatkan perawatan kesehatan dan memiliki cukup makan, namun tempat tinggalnya masih berdesakan dan banyak yang tidak punya baju ganti karena mereka pergi cepat-cepat hanya dengan pakaian yang menempel di badan.

Sementara itu, pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi mengatakan pada wartawan Kamis di ibukota negaranya, Naypyitaw, sekarang tergantung pada pemerintah "untuk melindungi warga dan membebaskan mereka dari perbudakan."

"Hal itu merupakan solusi yang paling jelas dan paling sederhana dan tugas tak terhindarkan dari pemerintah manapun yang bertanggung jawab," ujarnya.

Meski sebagian besar nelayan yang ditemukan di Benjina adalah warga Myanmar, ada juga yang berasal dari Kamboja. Korban sebanyak 550 orang itu tidak termasuk pria-pria, banyak diantara mereka yang juga diperbudak, dari daerah-daerah miskin di Thailand.